Sesudah Seremoni, Tanggung Jawab Mulai Menagih

Politik178 Dilihat

Medan, 15 Februari 2026.

MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Kata-kata besar masih terpampang, tetapi maknanya belum tentu tinggal. Di titik ini politik diuji bukan oleh rakyat, melainkan oleh nurani mereka yang baru saja dikukuhkan.

Pengukuhan kepengurusan DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Utara periode 2026–2031, Jumat (14/2/2026), bisa saja berlalu sebagai satu lagi seremoni.

Seperti banyak peristiwa politik lainnya, rapi, resmi, dan segera dilupakan. Namun tidak bagi Zeira Salim Ritonga.

Baginya, pengukuhan bukanlah puncak, melainkan titik awal yang saat seseorang tak lagi bisa bersembunyi di balik panggung.

“Pengukuhan itu bukan sekadar seremoni,” katanya. “Ia adalah legalitas awal untuk menjalankan visi dan misi partai.”

Kalimat itu terdengar administratif. Tetapi di baliknya tersembunyi beban yang tidak ringan, setelah nama disahkan, tak ada lagi alasan untuk menunda kerja.

BACA JUGA :  Di Balik Rapat Hotel Bintang, Ketika Kepentingan Rakyat Tertinggal di Gedung Dewan

Dalam politik yang sering dipersempit menjadi soal menang dan kalah, Zeira memilih berbicara tentang hal yang lebih dalam tentang makna.

“Berpolitik tidak hanya sekadar menang, Ia harus mampu membawa kesejahteraan bagi rakyat dan bangsa Indonesia.” ujarnya

Di sinilah politik seharusnya kembali ke rumahnya. Bukan ke kursinya.

Tetapi ke kehidupan sehari-hari orang-orang yang jarang masuk ruang rapat.

Sebab kemenangan tanpa kesejahteraan hanyalah angka. Dan angka, seperti kita tahu, tidak pernah bisa memeluk siapa pun.

BACA JUGA :  Ketua DPD Riau Syamsuar Kagum Lihat Prestasi Golkar Sumut di Bawah Komando Ijeck

Zeira menyebut satu kata yang sering dilupakan dalam hiruk-pikuk struktur dan jabatan, solidaritas.

“Solidaritas adalah kunci menjalankan kerja-kerja partai,” katanya singkat.
Ia tidak bicara tentang strategi besar atau kekuasaan. Ia bicara tentang hal paling dasar kepercayaan di antara sesama, kesediaan berjalan bersama, dan kemampuan menahan ego demi tujuan yang lebih luas.

Tanpa solidaritas, partai hanya menjadi kumpulan nama.

Tanpa solidaritas, kantor hanya tembok.
Tanpa solidaritas, politik kehilangan arahnya.

Ketika ditanya apa yang paling terlintas di pikirannya sesaat setelah acara selesai jawabannya nyaris tanpa hiasan.

“Kerja-kerja partai sudah harus dimulai. Tidak ada retorika, di sanalah kejujurannya.”

Pengukuhan kepengurusan DPW PKB Sumut dilakukan oleh Wakil Ketua Umum DPP PKB Ida Fauziah, dengan Ashari Tambunan sebagai Ketua DPW. Struktur telah sah. Nama-nama telah dicatat.

BACA JUGA :  Kongres PSI Cara Cerdas Jaga Kualitas Demokrasi Menuju Indonesia Emas

Kini yang diuji bukan lagi dokumen, melainkan komitmen.

Karena politik yang baik tidak lahir dari pidato panjang, tetapi dari kerja yang konsisten saat tak ada yang menonton. Ia tumbuh dari keberanian untuk memulai-justru ketika panggung telah kosong dan lampu dimatikan.

Dan barangkali, di situlah politik menemukan kembali maknanya
bukan saat disorak, tetapi saat bekerja dalam diam.(520)