Rakyat Dukung Kapolri Jadi Petani

“Kalau di Sawah, Paling Rugi Tikus. Kalau Di Kantor, Rakyat”

Hukum137 Dilihat

Jakarta, 27 Januari 2026.

JAKARTA, PROMEDIA.NEWS | Pernyataan Kapolri yang menyebut “lebih baik jadi petani” bila Polri harus berada di bawah kementerian justru disambut hangat oleh sebagian rakyat. Bukan karena anti-polisi, tapi karena pengalaman kolektif menunjukkan: saat menjabat Kapolri, yang panen justru kasus—dan seringnya rakyat yang jadi pupuk.

“Kalau beliau jadi petani, paling gagal panen padi. Kalau tetap Kapolri, gagal panen keadilan,” ujar seorang warga sambil menyiangi rumput, dengan nada lebih jujur daripada konferensi pers.

BACA JUGA :  KAMAK Desak Periksa BOBBY NASUTION Terkait OTT KPK Proyek Rp 231,8 Miliar di Sumut

Selama ini, publik merasa sudah terlalu sering melihat pola yang sama :

kasus besar → klarifikasi normatif → tim khusus → evaluasi internal → sunyi senyap seperti sawah habis disemprot pestisida.

Yang tumbuh bukan keadilan, tapi spanduk “kami berkomitmen”.

Maka wajar jika sebagian rakyat berpikir, bertani itu justru pilihan mulia.

Di sawah, hukum alam berlaku jelas:

  • Siapa menanam, dia menuai.
  • Siapa malas, dia kelaparan.

Tidak ada istilah “oknum tikus”, semua tikus ya tikus.

Berbeda dengan penegakan hukum, di mana tikus bisa menyamar jadi kucing, kucing jadi penjaga lumbung, dan lumbungnya… kosong.

BACA JUGA :  Kasus Citraland Masuk Penyidikan, Kejatisu Periksa Kepala BPN Sumut

“Kalau beliau pegang cangkul, paling salah nanam padi. Tapi kalau pegang kewenangan, salah sedikit, rakyat yang kebanjiran,” komentar netizen, yang mungkin lebih percaya irigasi desa daripada sistem pengawasan internal.

Ironisnya, profesi petani justru selama ini paling jarang dilindungi negara, tapi paling jujur hasilnya.

Petani gagal panen → dia mengaku.

Petani rugi → dia tanggung sendiri.

Tidak ada jumpa pers dengan slide PowerPoint berisi kata “koordinasi”.

Maka ketika Kapolri berkata lebih baik jadi petani, rakyat menjawab serempak:

BACA JUGA :  MPW PP Sumut Gelar Aksi Peduli Lingkungan, Sisir Sungai Deli dan Bagikan Sembako

“Silakan, Pak. Kami dukung. Demi keselamatan bersama.”

Karena di negeri ini, sawah yang rusak masih bisa ditanami ulang. Tapi kepercayaan rakyat—sekali digerus kasus—jauh lebih sulit dipulihkan.

Dan siapa tahu, di ladang yang sunyi, keadilan akhirnya bisa tumbuh…walau cuma setinggi padi, bukan setinggi jabatan. 🌾

Penulis : Yoyok Rahayu Basuki https://www.facebook.com/share/1J5FC8Uvid/

By: Syafaruddin Sikumbang.