Karya : Ust. Abdul Latif Khan.
MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Setiap manusia dilahirkan diatas bumi, tetap mendapat ujian dan cobaan dari Allah.
Bermacam cobaan dan ujian datang kepada kita semua, tanpa kita menyadari apa bentuk cobaan tersebut.
Diberi kesenangan itu juga ujian datangnya dari Allah. Musibah, apa itu penyakit, kemiskinan maupun ketiadaan lainnya, itu juga ujian bagi kita umat manusia yang datang dari Allah.
Tapi apakah kita tahu, cobaan dan ujian yang paling besar itu, ini yang harus menjadi pertanyaan bagi kita, apakah kita menyadari dan sadar ujian apa itu yang datang.
Maka, renungkan didalam malam hari, di malam-malam yang panjang.
Air mata jatuh tanpa suara.
Doa telah dipanjatkan berkali-kali. Tahajud telah dihidupkan. Sedekah telah diusahakan. Istighfar telah diperbanyak. Namun ujian masih tetap ada :
– Penyakit belum sembuh.
– Hutang belum lunas.
– Masalah keluarga belum selesai.
– Kesedihan belum juga pergi.
Lalu dari relung hati yang paling dalam muncul pertanyaan:
“Ya Allah, bukankah aku telah berusaha taat kepada-Mu? Bukankah aku menyembah-Mu? Mengapa ujian ini seakan tidak berkesudahan?”
Jika hari ini pertanyaan itu pernah melintas dalam hatimu, ketahuilah bahwa engkau tidak sendirian.
Bahkan para nabi pernah merasakan beratnya ujian.
Sering kali kita tanpa sadar mengira bahwa ketaatan adalah tiket untuk hidup tanpa masalah.
Padahal Al-Qur’an mengajarkan sebaliknya.
Allah berfirman :
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabut: 2)
Iman bukan alasan untuk dibebaskan dari ujian.
Justru iman adalah sebab seseorang diuji.
Karena ujian adalah alat Allah untuk membuktikan kejujuran pengakuan seorang hamba.
Semakin tinggi nilai keimanan seseorang, semakin besar pula kemungkinan ia menghadapi ujian yang berat.
Nabi Ayyub ‘alaihis salam kehilangan kesehatan, harta, dan keluarga dalam waktu yang panjang.
Nabi Ya’qub ‘alaihis salam menangis bertahun-tahun karena kehilangan Yusuf hingga matanya memutih.
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diperintahkan meninggalkan istri dan anaknya di lembah yang tandus.
Nabi Muhammad ﷺ kehilangan ayah sebelum lahir, kehilangan ibu ketika masih kecil, kehilangan paman yang melindunginya, kehilangan istri tercinta, mengalami pengusiran, peperangan, kelaparan, dan berbagai penderitaan lainnya.
Padahal mereka adalah manusia-manusia yang paling dicintai Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal dengan mereka, lalu yang semisal dengan mereka.”
(HR. At-Tirmidzi)
Maka beratnya ujian bukan tanda Allah membenci.
Bisa jadi justru tanda Allah sedang mempersiapkan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.
– Ada dosa yang tidak cukup dibersihkan dengan istighfar yang singkat.
– Ada kesalahan yang Allah hapus melalui sakit.
– Ada kelalaian yang Allah gugurkan melalui kesedihan.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bisa jadi engkau menangis hari ini agar tidak menangis lebih lama di akhirat nanti.
Tidak semua penderitaan berkaitan dengan dosa.
Sebagian ujian hadir karena Allah ingin meninggikan derajat hamba-Nya.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa di antara hikmah ujian adalah mengangkat seorang hamba ke tingkatan yang tidak mungkin dicapainya hanya dengan amal semata.
Ada derajat di surga yang tidak bisa dibeli dengan banyaknya shalat sunnah.
Ada kedudukan yang hanya bisa diraih dengan kesabaran.
Karena itu Allah memberi ujian.
– Ketika hidup mudah, sering kali kita lupa berdoa.
– Ketika semua berjalan lancar, hati mudah lalai.
– Tetapi ketika ujian datang, kita bangun malam.
Kita menangis dalam sujud :
Kita mengangkat tangan dengan penuh harap.
Kita merasa sangat membutuhkan Allah.
Bukankah keadaan seperti itu justru membuat kita lebih dekat kepada-Nya?
Betapa banyak orang yang menemukan Allah justru saat mereka kehilangan dunia.
Salah satu sebab hati menjadi lelah adalah karena kita menetapkan jadwal bagi Allah.
Kita berkata:
“Ya Allah, aku sudah sabar satu bulan.”
“Ya Allah, aku sudah berdoa satu tahun.”
“Ya Allah, kapan ujian ini selesai?”
Padahal Allah tidak pernah meminta kita menentukan waktunya.
Tugas kita adalah beribadah.
Tugas Allah adalah menentukan kapan pertolongan itu datang.
Nabi Ya’qub menunggu bertahun-tahun.
Nabi Ayyub bersabar dalam waktu yang sangat panjang.
Namun ketika pertolongan Allah datang, semuanya berubah dalam sekejap.
Bisa Jadi Ujian Ini Sedang Menyelamatkanmu
– Sering kali kita hanya melihat apa yang hilang.
– Kita tidak melihat apa yang sedang Allah lindungi.
– Mungkin Allah menahan sesuatu agar engkau tidak terjerumus.
– Mungkin Allah menunda sesuatu agar engkau tidak binasa.
– Mungkin Allah mengambil sesuatu agar engkau mendapatkan yang lebih baik.
Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Muhasabah
– Wahai hati yang sedang lelah.
– Jangan ukur kasih sayang Allah dari ringan atau beratnya hidupmu.
– Ukur kasih sayang-Nya dari seberapa dekat Dia membuatmu kepada-Nya.
Jangan katakan:
“Ya Allah, sampai kapan ujian ini?”
Tetapi katakan:
“Ya Allah, jangan biarkan aku kehilangan-Mu di tengah ujian ini.”
Karena sesungguhnya musibah terbesar bukanlah sakit.
– Bukan pula kemiskinan.
– Bukan pula kehilangan.
Musibah terbesar adalah ketika ujian membuat seseorang jauh dari Rabb-nya.
Doa
Ya Allah…
Jika ujian ini adalah penghapus dosa kami, maka jadikan kami hamba yang ridha.
Jika ujian ini adalah jalan menuju derajat yang tinggi, maka kuatkan langkah kami.
Jika ujian ini adalah bentuk kasih sayang-Mu, maka jangan biarkan hati kami berprasangka buruk kepada-Mu.
Dan jika pertolongan-Mu belum tiba hari ini, maka karuniakanlah kesabaran untuk menunggu hingga waktu terbaik menurut-Mu.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Diterbitkan oleh Rumah Dakwah As Sakinah.
Editor : Ust M.Ismail Chair Tanjung, SH.I
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, menyoroti…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Jumat…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Halomoan Ho, salah satu nasabah PT Sompo Insurance Indonesia Cabang Medan, menyoroti…