3 TOKOH STRATEGI PERANG ASIMETRIS IRAN (Copas dari military essay)
Teheran, 23 Maret 2026.
TEHERAN, PROMEDIA.NEWS | Dalam istilah sederhana, perang asimetris adalah konflik di mana kekuatan kedua belah pihak tidak seimbang. Karena pihak yang lebih lemah (seperti Iran) tidak mungkin menang jika berduel secara konvensional (tank vs tank, pesawat tempur vs pesawat tempur), mereka menggunakan metode non-konvensional untuk mengeksploitasi kelemahan lawan.
Prinsip Utamanya adalah tidak menyerang di tempat lawan paling kuat (misal: laut terbuka atau supremasi udara), tetapi memilih menyerang Titik Lemah, seperti logistik, foreign military base, opini publik, stabilitas kawasan dan ekonomi, atau psikologi tentara lawan.
Dalam perang ini Iran mencoba memperpanjang Durasi. Tujuannya bukan menghancurkan militer musuh tapi membuat biaya perang (uang dan nyawa) menjadi terlalu mahal bagi musuh.
Strategi Iran sering disebut sebagai “Forward Defense” (Pertahanan di Luar Batas Negara). Mereka menerapkan perang asimetris melalui tiga pilar utama:
Iran menggunakan jaringan proxy, . Ini memberi Iran plausible deniability (kemampuan untuk membantah keterlibatan langsung) sambil tetap menekan musuh.
Iran sadar mereka tidak punya kapal induk. Sebagai gantinya, mereka pakai Swarm Tactics (Taktik Kerumunan) di Selat Hormuz. Iran punya ribuan kapal cepat kecil berpeluru kendali. Jika terjadi konflik, kapal-kapal ini akan menyerbu kapal besar musuh secara bersamaan dari berbagai arah, seperti sekumpulan lebah menyengat seekor beruang.
Iran memiliki program rudal balistik terbesar di Timur Tengah. Mereka fokus pada presisi dan kuantitas. Drone murah (seperti tipe Shahed) digunakan untuk menguras sistem pertahanan udara musuh yang sangat mahal (seperti Patriot atau Iron Dome). Secara ekonomi, ini adalah kemenangan asimetris: drone seharga $20.000 harus dijatuhkan dengan rudal pencegat seharga $2.000.000.
Jenderal Qasem Soleimani (syahid 2020) komandan Pasukan Quds IRGC ini adalah arsitektur utama strategi dan penggerak utama di balik jaringan proksi Iran. Ia menghabiskan puluhan tahun di medan perang (Irak, Suriah, Lebanon) untuk menyatukan berbagai milisi menjadi satu kekuatan terkoordinasi. Dialah yang mengubah perang asimetris dari sekadar teori menjadi mesin geopolitik yang efektif.
Lalu ada Jenderal Mohammad Bagheri (wafat 2025)
Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran. Ia dikenal sebagai pemikir strategis yang menekankan pada pengembangan teknologi rudal dan drone domestik sebagai jawaban atas sanksi militer Barat.
Kemudian Mohammad Javad Zarif (Secara Diplomasi)
Mantan Menteri Luar Negeri ini menerapkan “asimetri diplomasi.” Ia menggunakan kemampuannya berargumen dan media sosial untuk memenangkan opini publik global, membuat tindakan militer AS terhadap Iran menjadi secara politik sulit dilakukan (biaya politik yang mahal). Teknik ini juga dipakai menlu yang sekarang, Araghchi.
Strategi perang asimetris, terutama model “perang atrisi” (menguras energi) yang dijalankan Iran, jauh lebih berbahaya dan melelahkan bagi negara adidaya ketimbang perang konvensional terbuka.
Ada tiga alasan mengapa strategi ini sangat mematikan dalam konteks politik modern:
Cara ini bikin pengeluaran musuh jadi boncos. Secara matematis, negara sekaya apa pun akan “kebocoran” anggaran jika terus-menerus meladeni serangan murah dengan pertahanan mahal. Iran tidak perlu menang perang; mereka cukup membuat musuhnya bangkrut secara perlahan.
Dengan mengulur waktu, Iran memanfaatkan “Kelelahan” Demokrasi. Negara-negara Barat (seperti AS) adalah negara demokrasi yang sangat sensitif terhadap opini publik dan durasi perang. Tindakan agresi/menyerang yang berdurasi lama dan bikin biaya membengkak akan membuat publik marah.
Strategi Iran adalah menunggu. Mereka tahu mereka bisa bertahan di wilayahnya jauh lebih lama daripada pasukan agresor asing. Iran menggunakan waktu sebagai senjata untuk membuat intervensi militer lawan menjadi beban politik yang tidak tertahankan.
Iran membuat frontline jadi tidak jelas karena iran punya teknik proxy war.
Ini menciptakan frustrasi strategis. Musuh merasa seperti memukul bayangan; bayangannya tidak mati, tapi tangan yang memukul justru pegal dan cedera.
Iran tidak butuh “skakmat. Mereka cukup menjaga agar permainan terus berlanjut sampai lawan mereka lelah secara psikologis, keluarin biaya yang terius meningkat, kerugian peralatan dan logistik.
Dalam dunia militer, sering dikatakan: “The guerrillas win if they do not lose. The conventional army loses if it does not win.” (Gerilya menang jika mereka tidak kalah. Tentara konvensional kalah jika mereka tidak menang telak). Iran sangat memahami hukum ini.
By: Syafaruddin Sikumbang.
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, menyoroti…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…
Karya : Ust. Abdul Latif Khan. MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Setiap manusia dilahirkan diatas bumi, tetap…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Jumat…