Categories: News

Siapa Yang Memegang Kendali Kekuasaan di Iran Setelah Para Pemimpin Puncaknya Tewas?

Teheran, 22 Maret 2026.

TEHERAN, PROMEDIA.NEWS | Pertama, Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei tewas dalam tembakan pembuka perang.  Kini Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Tertinggi Iran yang dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di negara Iran, juga telah tewas. Begitu pula sejumlah pemimpin militer dan politik tingkat atas lainnya.

Dengan begitu banyak figur puncak kepemimpinan yang tersingkir, siapa yang sekarang menjalankan Iran? Berikut adalah tinjauan struktur kekuasaan negara ini—apa yang diketahui, dan apa yang tidak.

 

Penerus Khameini

Otoritas tertinggi di Iran berada di tangan pemimpin tertinggi, yang telah menduduki puncak kekuasaan sejak berdirinya Republik Islam pada 1979 setelah revolusi yang menggulingkan raja Iran.

Setelah Khamenei tewas, putranya, Mojtaba Khameini yang berusia 56 tahun, dengan cepat ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Sosok yang misterius ini, Khamenei muda belum terlihat di depan publik sejak serangan udara yang menewaskan ayahnya yang berusia 86 tahun.

Sang ulama telah lama dianggap sebagai kandidat kuat untuk posisi tersebut, meskipun ia tidak pernah terpilih atau diangkat ke dalam jabatan pemerintahan. Khamenei muda mempertahankan hubungan erat dengan Garda Revolusi paramiliter yang kuat.

Pandangannya diyakini lebih keras daripada ayahnya. Secara resmi, ia kini memimpin angkatan bersenjata Iran, dan keputusan apa pun mengenai program nuklir negara itu berada di tangannya.

Tapi apakah ia benar-benar menjalankan Iran?

 

Israel Mengatakan Kepemimpinan Iran Dalam Kekacauan.

“Saya tidak yakin siapa yang menjalankan Iran saat ini” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers Kamis malam. “Mojtaba, pengganti Ayatullah belum menunjukkan wajahnya. Apakah anda pernah melihatnya? Kami belum, dan kami tidak bisa menjamin apa yang sebenarnya terjadi disana”

Istri Mojtaba Khamenei, Zahra Haddad Adel, juga tewas dalam serangan Israel yang menewaskan ayahnya. Pejabat AS dan Israel menyebutkan bahwa ia terluka dalam serangan yang sama.

“Struktur komando dan kendali Iran berada dalam kekacauan total” kata Netanyahu.

Burcu Ozcelik, peneliti senior keamanan Timur Tengah di Royal United Services Institute, sebuah lembaga think tank pertahanan dan keamanan yang berbasis di Inggris, mengatakan bahwa penghabisan begitu banyak pemimpin puncak Iran akan mengubah sistem teokrasinya—tetapi perubahan itu bisa terjadi secara bertahap.

“Kepemimpinan itu penting, dan hilangnya para pengambil keputusan kunci yang mencakup politik, intelijen, keamanan internal dan militer akan membawa konsekuensi transformatif,” kata Ozcelik.

“Fiksasi pada terminologi ‘runtuhnya rezim’ mengaburkan fakta bahwa rezim itu sendiri sudah berubah” akibat serangan terhadap negara itu dan pembunuhan para pemimpin tingkat atas. Namun dampak penuh perang terhadap negara itu bisa membutuhkan waktu untuk muncul”. jelas Ozcelik.

“𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗽𝗲𝗿𝘂𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝘂𝗻𝗴𝗸𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘄𝗮𝗸𝘁𝘂 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻-𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗺𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂-𝗺𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗯𝗲𝗿𝗯𝘂𝗹𝗮𝗻-𝗯𝘂𝗹𝗮𝗻.”

 

Garda Revolusi

Bagi banyak analis, kekuasaan sejati kini berada di tangan pasukan paramiliter yang ditakuti, Garda Revolusi Islam.

“Garda Revolusi adalah negara sekarang” kata Ali Vaez, direktur proyek Iran di International Crisis Group. Sebelum perang, kepemimpinan sipil negara itu “sepenuhnya tunduk” kepada pemimpin tertinggi, jelasnya, sementara Garda adalah kekuatan terkuat kedua di negara itu.

Tapi sekarang, dengan Khamenei senior tiada dan putranya tidak memiliki otoritas yang sama seperti ayahnya, “itu benar-benar Garda Revolusi lah yang menjalankan negara”.

Garda muncul dari Revolusi Islam Iran 1979 sebagai kekuatan yang dimaksudkan untuk melindungi pemerintahan yang diawasi ulama Syiah. Kemudian ia diabadikan dalam konstitusi dan beroperasi paralel dengan angkatan bersenjata reguler Iran.

Pasukan Quds ekspedisioner Garda menjadi kunci dalam menciptakan apa yang digambarkan Iran sebagai “Poros Perlawanan” melawan Israel dan Amerika Serikat. Ia mendukung mantan Presiden Suriah Bashar Assad, kelompok militan Lebanon Hizbullah, pemberontak Houthi Yaman, dan kelompok bersenjata lainnya di kawasan.

 

Militer Yang Independen

Di awal perang, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengindikasikan bahwa unit-unit militer negara itu bertindak independen dari kendali pemerintah pusat.

“Unit-unit militer kami sekarang sebenarnya independen dan agak terisolasi dan mereka bertindak berdasarkan instruksi – Anda tahu, instruksi umum yang diberikan kepada mereka sebelumnya.” kata Araghchi di Al Jazeera pada 1 Maret.

Ketika ditanya tentang serangan Teheran ke negara-negara Teluk lainnya—seperti Oman, yang bertindak sebagai perantara bagi Iran dalam pembicaraan nuklir baru-baru ini dengan AS—ia mengatakan: “Apa yang terjadi di Oman bukanlah pilihan kami. Kami telah mengatakan kepada pasukan kami, angkatan bersenjata kami untuk berhati-hati dengan target yang mereka pilih”

 

“Lapisan Kepemimpinan Yang Berlapis”

“Kemungkinan serangan Israel atau AS terhadap Iran telah lama dipertimbangkan. Itu adalah sesuatu yang telah diperhitungkan Republik Islam dalam perencanaannya, menyusun banyak rencana kontinjensi,” kata Vaez.

“Saya pikir kesalahan di pihak AS dan Israel adalah mereka akhirnya percaya pada retorika mereka sendiri bahwa Iran mirip dengan organisasi teroris, bahwa memenggal rezim atau menghapus satu atau dua lapisan elit politik akan mengakibatkan kelumpuhan dan keruntuhan, padahal ini adalah sebuah negara, ia memiliki lapisan kepemimpinan yang berlapis” kata Vaez.

Bahkan jika semua jenderal top dihabisi, katanya, yang lain di peringkat bawah dapat mengambil alih di mana atasan mereka berhenti. “Ekspektasi bahwa rezim ini akan runtuh dengan menghapus beberapa lusin pemimpin senior, saya pikir ini hanyalah ilusi belaka” tutup Vaez.

Penulis: Panca Prawira. https://www.facebook.com/share/1EdmStE5cE/

By: Syafaruddin Sikumbang. 

redaksipro

Recent Posts

LIPPSU: Mengurus Kebun PSU Seluas 14.276 Hektare Dengan Jurus “Sambar Gledek”, Puluhan Miliar Rupiah Uang Ikut Tersambar Petir

MEDAN, PRIMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Sabtu…

1 Juni 2026

Ada Ketua Kelas di Pemprovsu Ingin Preteli Proyek RS Haji Rp484 Miliar?

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…

1 Juni 2026

John Ester Lase : Rehabilitasi Puskesmas Medan Sudah Dirancang Matang

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata…

1 Juni 2026

LIPPSU: Hanya Pendekar Mabuk Yang Bisa Batalkan Putusan MA dan PK

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, menyoroti…

1 Juni 2026

LIPPSU: Tok, Tok, Tok… Putusan MA dan PK Sudah Sah, PT Sompo Insurance Wajib Penuhi Hak Konsumen dan Jangan “Lari Malam”

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif LIPPSU, Azhari AM Sinik, Minggu (31/5/2026), menyoroti belum tuntasnya sengketa…

1 Juni 2026

LIPPSU: Sudah Tahu Ada Gangguan Blackout PLN Tapi Mengapa Didiamkan Saja Sampai Rakyat Menjerit-Jerit, Lalu Minta Maaf

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Minggu…

1 Juni 2026