Hukum

OPINI: DARI PENEGAK JADI PELAPAK: Ketika “Lampu Hijau” Seharga 1 Miliar & Alphard

Tulisan : Lhynaa Marlinaa (Marlina)

Jakarta, 5 Februari 2026.

JAKARTA, PROMEDIA.NEWS | Di pundaknya tersemat dua melati emas. Simbol wibawa, simbol komando. Namun, pengakuan mengejutkan dari ruang pemeriksaan meruntuhkan wibawa itu hingga ke titik nol.

Seorang Kapolres (kini nonaktif) diduga bukan sibuk mengatur strategi menangkap bandar, melainkan sibuk mengatur “menu tagihan” kepada bawahannya: Uang Rp 1 Miliar dan sebuah mobil Alphard. Ini bukan skenario film mafia The Godfather. Ini realita (diduga) terjadi di Bima Kota.

 

LOGIKA TERBALIK: MEMBERANTAS ATAU MEMERAS? 🤔

Bayangkan posisi si bawahan (Kasat Narkoba). Tugasnya menangkap penjahat, tapi di sisi lain, ia “dicekik” oleh atasan sendiri untuk menyediakan upeti miliaran rupiah demi mempertahankan jabatan.

Dari mana uang segitu? Gaji polisi jelas tidak cukup. Maka, jalan pintas pun diambil. Musuh negara (Bandar Narkoba) tiba-tiba berubah menjadi “Mitra Strategis”.

“Aturan mainnya bagaimana?”

Konon itulah kalimat sakti sang komandan saat dilapori ada bandar mau masuk. Kalimat itu bukan perintah penangkapan, melainkan sinyal dagang. Lampu hijau menyala, barang haram beredar, rekening gendut, dan rakyat jadi korban.

 

BISNIS “FRANCHISE” KEJAHATAN

Kasus ini membuka kotak pandora yang mengerikan. Ternyata, bandar narkoba bisa masuk bukan karena polisi lengah, tapi karena polisinya “butuh dana” untuk melayani nafsu hedonisme pimpinannya.

Ini adalah Simbiosis Parasitisme yang sempurna. Bandar dapat perlindungan, Atasan dapat kemewahan, Bawahan dapat jabatan, Masyarakat dapat racunnya.

 

ALPHARD DI ATAS PENDERITAAN

Jika tuduhan ini terbukti benar, maka Alphard yang diimpikan itu sejatinya berbahan bakar air mata ibu-ibu yang anaknya sakau narkoba.

Uang 1 Miliar itu adalah deviden dari kehancuran generasi muda di Sumbawa. Publik kini menunggu ketegasan Polri. Apakah “Presisi” hanya tajam ke bawah (masyarakat) tapi tumpul ke atas (pewira menengah)?

Jangan sampai institusi ini rusak hanya karena nila setitik—ah maaf, ini bukan setitik, ini sebelanga besar bernama “Keserakahan”.

 

Penulis: Lhynaa Marlinaa (Marlina) https://www.facebook.com/share/1CtvyzonYV  Daily Vlog | News Agregator | Citizen Journalist

By: Syafaruddin Sikumbang,

redaksipro

Recent Posts

Hasil Bumi Negara Dikuras, Sang Merah Putih Lusuh Berkibar Di Pertamina Patra Niaga. DPN Kumpulin Uang Beli Merah Putih Yang Baru!

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Massa yang tergabung dalam Dewan Peduli Negeri (DPN) marah karena TM Yusuf…

24 Juni 2026

Bawaslu Deli Serdang Korupsi Dana Hibah Rp28 Miliar, LSM LIRA Desak Kejari Deli Serdang Jangan Peti-Eskan Kasusnya

DELI SERDANG, PROMEDIA.NEWS - Dugaan tindak pidana korupsi (TPK) terkait Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD)…

24 Juni 2026

Penegakan Hukum Di Indonesia Dipertanyakan Dalam Kasus Ijazah Jokowi

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Kasus dugaan ijazah palsu yang menyeret nama Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko…

24 Juni 2026

Kompol Muhammad Irsal, Harapan Baru Pembenahan Satreskrim Polresta Deli Serdang

DELI SERDANG, PROMEDIA.NEWS - Kompol Muhammad Irsal, S.I.K., M.H., merupakan sosok perwira menengah Polri yang…

24 Juni 2026

Darah Wartawan Mengalir Ke Anak Cucu

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Perjalanan hidup manusia memang tidak ada yang tahu. Mau menjadi apa, ke…

24 Juni 2026

LIPPSU: Dilarang Sholat Di Pertamina Patra Niaga, Jangan Pancing Kemarahan Umat Islam

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari A.M Sinik,…

23 Juni 2026