Hukum

OPINI: DARI LENCANA KE LUKA: Ketika Penegak Hukum Berteriak Minta Keadilan

Tulisan : Lhynaa Marlinaa (Marlina)

Pontianak, 13 Februari 2026.

PONTIANAK, PROMEDIA.NEWS | Di balik dinginnya jeruji Rutan Pontianak, sebuah surat tidak ditulis di atas meja kerja yang nyaman, melainkan di tengah keterasingan.

Penulisnya bukan warga sipil yang awam hukum. Ia adalah Meigi Alrianda, sosok yang dulu berdiri gagah dengan seragam cokelat, kini justru terpojok di sudut sel sebagai pesakitan.

Ini bukan sekadar drama kriminal biasa. Ini adalah paradoks. Bagaimana mungkin seorang pengayom masyarakat harus menulis surat terbuka kepada Presiden hanya untuk mendapatkan hak asasinya yang paling mendasar?

 

JARAK RATUSAN KILOMETER, TAPI TANGAN DIBORGOL?

Angka 499,16 gram itu menjadi misteri. Barang bukti ditemukan di Kubu Raya, sementara raga Meigi berada ratusan kilometer jauhnya di Melawi. Namun, yang lebih mengerikan dari sekadar janggalnya lokasi penangkapan adalah narasi di balik layar yang ia ungkap: PENYIKSAAN.

Ruang interogasi yang seharusnya menjadi tempat menggali kebenaran, diduga berubah menjadi panggung intimidasi. Nama-nama oknum disebut, bogem mentah dilayangkan, hingga nasi basi menjadi menu harian.

Jika pengakuan ini benar, kita sedang melihat wajah bopeng institusi. Ketika aparat penegak hukum sendiri mengaku diperas—konon dimintai pelicin ratusan juta rupiah hanya untuk “mengatur” sidang—lantas apa kabar rakyat kecil yang kantongnya tipis?

 

REFORMASI ATAU DEGRADASI? 📉

Tentu, kita sepakat: Narkoba adalah musuh bersama. Tidak ada tempat bagi pengedar, apalagi jika ia berlindung di balik seragam. Hukum harus tajam, setajam-tajamnya.

Namun, menegakkan hukum dengan cara melanggar hukum (rekayasa & penyiksaan) adalah sebuah bunuh diri moral. Apakah jargon “Presisi” hanya berlaku di baliho jalanan, tapi luntur saat masuk ke ruang penyidikan tertutup?

 

MENANTI RESPON ISTANA 🏛️

Surat Meigi kini telah beredar luas, mengetuk pintu hati Bapak Presiden dan Kapolri. Publik kini menonton dengan cemas. Kasus ini bukan lagi soal Meigi semata, tapi soal KEPERCAYAAN. Apakah teriakan minta tolong dari “orang dalam” ini akan didengar? Atau akan tenggelam dianggap angin lalu?

Sebab, jika seorang polisi saja bisa menjadi korban rekayasa dan pemerasan oleh rekannya sendiri, kepada siapa lagi rakyat harus percaya untuk mencari keadilan? Semoga kebenaran segera menemukan jalannya, seterang cahaya matahari, bukan selap-gelap ruang interogasi.

Penulis: Lhynaa Marlinaa (Marlina) https://www.facebook.com/share/1CtvyzonYV  Daily Vlog | News Agregator | Citizen Journalist

By: Syafaruddin Sikumbang,

redaksipro

Recent Posts

Mengenal Ulama Dunia, Renungan Berdasarkan Pandangan Imam Al-Ghazali

Oleh: Ust Abdul Latif Khan MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Sebagai seorang mukmin hamba Allah dan Umat…

19 Juli 2026

LIPPSU: PKH dan KIP Warga Medan “Digergaji” Hingga Putus, Rico Waas Asyik Nobar Piala Dunia Sambil Teriak ‘Hajar Terus, Bro, Ya, Ya.. Gooool’

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Gelombang pemutusan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan Kartu Indonesia Pintar…

19 Juli 2026

LIPPSU: Bapenda Medan Sudah Berkali-kali Merayu Wajib Pajak, Tapi Upah Pungut Kepling Nunggu “Terbawa Arus Air Terjun Sigura-gura”

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari A.M Sinik,…

19 Juli 2026

Dengar Celotehnya Wanita Ini : “Sepanjang-panjangnya Ular Anaconda, Lebih Panjang Antrean BBM”

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai SPBU Sumatera Utara yang…

19 Juli 2026

Antre BBM Belum Usai, Mobil Tangki Pertamina “Kencing” Pula Tengah Malam

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di…

19 Juli 2026

Perang Mulut Tak Kunjung Mereda Macam Adu Tarung Pedang Samurai, Pantas Antre BBM Belum Usai

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…

19 Juli 2026