Oleh: Ust. Abdul Latif Khan
MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Menjadi pemimpin bukan sekadar memperoleh kehormatan. Jabatan bukan hadiah, melainkan amanah yang sangat berat. Di dunia, seorang pemimpin mungkin mendapat penghormatan, fasilitas, dan pengawalan. Namun di akhirat, ia akan berdiri seorang diri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang pernah diambil.
Yang lebih menggetarkan adalah kenyataan bahwa bukan hanya catatan amal yang akan dibuka. Seluruh rakyat yang pernah berada di bawah kepemimpinannya juga akan menjadi saksi.
Mereka akan bersaksi apakah pemimpinnya berlaku adil atau zalim, amanah atau khianat, melayani atau justru menyengsarakan.
*Allah Ta’ala berfirman,*
«”Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak.”
(QS. Ibrahim: 42)»
1. Jabatan Adalah Amanah, Bukan Kemuliaan
Banyak orang mengejar jabatan seolah-olah ia adalah puncak kemuliaan.
Padahal di sisi Allah, jabatan adalah beban yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Semakin luas kekuasaan seseorang, semakin luas pula pertanyaan Allah kepadanya.
*Rasulullah ﷺ bersabda,*
«”Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
(HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)»
Tidak ada satu keputusan, satu tanda tangan, satu kebijakan, bahkan satu pembiaran terhadap kezaliman yang luput dari hisab Allah.
2. Rakyat yang Diam di Dunia Akan Berbicara di Akhirat
Hari ini mungkin banyak rakyat yang memilih diam.
– Ada yang takut.
– Ada yang lemah.
– Ada yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan.
Namun diamnya manusia bukan berarti Allah menganggap semuanya selesai.
Di Padang Mahsyar nanti, mereka akan berbicara.
– Air mata para fakir.
– Keluhan anak yatim.
– Jeritan kaum dhuafa.
– Doa orang-orang yang dizalimi.
Semuanya akan menjadi saksi di hadapan Allah.
Tidak ada seorang pemimpin pun yang mampu membungkam kesaksian itu.
3. Air Mata Orang yang Dizalimi Tidak Pernah Sia-Sia
Boleh jadi seorang pemimpin mampu membungkam media.
Mampu mengendalikan opini.
Mampu menutupi keburukan dengan pencitraan.
Namun ia tidak pernah mampu menghalangi doa orang yang dizalimi.
*Rasulullah ﷺ bersabda,*
«”Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah.”
(HR. Al-Bukhari no. 2448 dan Muslim no. 19)»
Betapa banyak pemimpin yang tampak kuat di dunia, tetapi hancur karena doa rakyat yang tertindas.
4. Pengkhianatan terhadap Amanah Menghalangi Surga
Rakyat mempercayakan amanah kepada para pemimpinnya.
Jika amanah itu dikhianati, maka akibatnya bukan hanya hukuman dunia.
*Rasulullah ﷺ bersabda,*
«”Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah memimpin rakyat, kemudian ia meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.”
(HR. Al-Bukhari no. 7150 dan Muslim no. 142)»
Hadis ini bukan sekadar ancaman.
Ia adalah peringatan agar setiap pemimpin selalu takut kepada Allah sebelum takut kehilangan jabatan.
5. Tidak Ada Pencitraan di Padang Mahsyar
Di dunia, seseorang mungkin berhasil membangun citra.
– Pidatonya memukau.
– Medianya mendukung.
– Pengikutnya memuji.
Namun di akhirat semuanya runtuh.
– Tidak ada kamera.
– Tidak ada juru bicara.
– Tidak ada buzzer.
Yang ada hanyalah timbangan amal, catatan para malaikat, dan kesaksian rakyat.
*Allah berfirman,*
«”Pada hari itu Kami tutup mulut mereka. Tangan mereka berbicara kepada Kami dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin: 65)»
Bahkan anggota tubuh sendiri akan menjadi saksi. Apalagi manusia yang pernah merasakan dampak kepemimpinannya.
6. Bayangkan Ketika Seluruh Rakyat Berdiri Menjadi Saksi
Bayangkan apabila jutaan rakyat berdiri di hadapan Allah.
*Mereka berkata,*
“Ya Allah, dialah yang dahulu memimpin kami. Dialah yang membiarkan kami kelaparan. Dialah yang mengambil hak kami. Dialah yang menutup telinga dari jeritan kami. Dialah yang menggunakan amanah untuk kepentingan dirinya.”
– Saat itu tidak ada lagi kuasa.
– Tidak ada lagi kendaraan dinas.
– Tidak ada lagi pengawal.
– Tidak ada lagi masa jabatan.
Yang ada hanyalah penyesalan yang tidak lagi berguna.
7. Pemimpin Terbaik Adalah Pelayan bagi Rakyatnya
Pemimpin yang dicintai Allah bukanlah yang paling terkenal. Bukan pula yang paling kaya.
Tetapi yang paling takut kepada Allah ketika memegang amanah.
– Ia tidur memikirkan rakyatnya.
– Ia menangis karena takut menzalimi mereka.
– Ia lebih mencintai keadilan daripada popularitas.
Sejarah mencatat bagaimana Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Seandainya seekor keledai terperosok di jalan Irak, aku khawatir Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadaku mengapa aku tidak meratakan jalan untuknya.”
Begitulah hati seorang pemimpin yang mengenal Allah.
*Wahai para pemimpin, ingatlah*
– Jabatan akan berakhir.
– Gedung-gedung megah akan ditinggalkan.
– Pangkat akan dicabut.
– Nama akan terlupakan.
Namun satu hal yang akan tetap tinggal adalah pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Semua rakyat yang pernah kalian wakili akan berdiri menjadi saksi.
Jika mereka bersaksi bahwa engkau adil, itulah kemuliaan yang sesungguhnya.
Namun jika mereka bersaksi bahwa engkau telah mengkhianati amanah, maka tiada lagi penyesalan yang dapat mengubah keputusan Allah.
Semoga Allah menganugerahkan kepada negeri ini para pemimpin yang takut kepada-Nya, mencintai keadilan, membela rakyat kecil, menolak segala bentuk kezaliman, dan memegang amanah hingga akhir hayat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Editor : Ust M. Ismail Chair Tanjung, Sh.I






