Mengenal Ulama Dunia, Renungan Berdasarkan Pandangan Imam Al-Ghazali

Serial Renungan dari Mihrab Maya

Ragam22 Dilihat

Oleh: Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Sebagai seorang mukmin hamba Allah dan Umat Muhammad Rasulullah, perlunya mengenal lebih dekat dan mencari ulama dan guru mursyid yang membawa kita kejalan Allah dan Rasulullah.

Karena tidak semua orang yang berilmu dekat dengan Allah.

Tidak semua yang pandai berbicara tentang agama dicintai oleh-Nya.

Ada ulama yang menjadikan ilmunya sebagai jalan menuju akhirat.

Namun ada pula yang menjadikan ilmunya sebagai tangga menuju dunia.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din memberi peringatan yang sangat keras tentang golongan yang beliau sebut sebagai ulama dunia.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu agama, tetapi orientasi hidupnya bukan lagi mencari ridha Allah.
– Yang mereka cari adalah pujian.
– Kedudukan.
– Kekuasaan.
– Harta.
– Popularitas.

Ilmu yang seharusnya membimbing manusia kepada Allah justru dijadikan alat untuk memperoleh keuntungan dunia.
– Ketika Ilmu Kehilangan Ruhnya
– Ilmu adalah cahaya.
– Cahaya ilmu akan padam ketika niat berubah.
– Lisan masih berbicara tentang keikhlasan.
– Tetapi hati sibuk menghitung keuntungan.
– Ceramah semakin ramai.
– Pengikut semakin banyak.
– Panggung semakin luas.
– Rasa takut kepada Allah justru semakin berkurang.
– Inilah musibah yang sangat ditakuti oleh para ulama salaf.

BACA JUGA :  Jockie Heruseon, Dari Anak Kampung Menuju Kursi Vice President B2B/G2C Business Telkomsel

Tanda-Tanda Ulama Dunia

Imam Al-Ghazali menjelaskan beberapa ciri yang patut diwaspadai :
– Mereka lebih senang mendekati para penguasa daripada mendekat kepada orang-orang miskin.
– Mereka menyampaikan kebenaran selama tidak mengganggu kepentingan dirinya.
– Mereka enggan menegur kezaliman ketika khawatir kehilangan jabatan, fasilitas, atau penghormatan.
– Mereka merasa bahagia ketika dipuji.
– Namun merasa tersinggung ketika dikritik.
– Ilmu menjadi alat mempertahankan kedudukan.
– Bukan sarana menyelamatkan manusia.
– Bahaya yang Tidak Terlihat
– Ulama dunia mungkin masih menghafal ayat.
– Masih mengutip hadis.
– Masih berbicara tentang surga dan – neraka.
– Tetapi jika semua itu dilakukan demi dunia, maka ilmu tersebut tidak lagi menjadi penyelamat.

BACA JUGA :  Ayah, Kau Bilang Kau Bekerja untuk Kami. Lalu Kenapa Kami Merasa Sangat Jauh Darimu?

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan rasa takut kepada Allah justru dapat menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya pada Hari Kiamat.
– Semakin luas ilmunya.
– Semakin besar pula pertanggungjawabannya.

Ulama Akhirat

Sebaliknya, ulama akhirat selalu takut kepada Allah.
– Ia lebih khawatir terhadap amalnya sendiri daripada sibuk menilai orang lain.
– Ia tidak menjual fatwa demi kepentingan siapa pun.
– Ia tidak mengubah kebenaran demi tepuk tangan manusia.
– Ia berbicara karena amanah.
– Ia diam karena hikmah.
– Ia mengajar agar manusia semakin dekat kepada Allah, bukan semakin kagum kepada dirinya.

*Muhasabah*

Tulisan ini bukan untuk menunjuk siapa pun.
Bukan pula untuk menghakimi seseorang.

Imam Al-Ghazali menulis nasihat ini agar setiap pencari ilmu, dai, ustaz, khatib, guru, dan siapa pun yang berbicara tentang agama terlebih dahulu memeriksa hatinya sendiri.
– Mengapa kita belajar?
– Mengapa kita berbicara?
– Mengapa kita berdakwah?
– Apakah semua itu benar-benar karena Allah?
– Ataukah perlahan dunia telah menyelinap ke dalam hati tanpa kita sadari?

BACA JUGA :  Ketika Sepi Mendera Hati

Semoga Allah menjadikan ilmu kita sebagai cahaya yang membimbing menuju surga.

Bukan sebagai sebab penyesalan pada hari ketika harta, jabatan, dan popularitas tidak lagi memiliki nilai di hadapan-Nya.

«”Barang siapa mengajarkan ilmu yang seharusnya dicari demi wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk memperoleh dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga.”
(HR. Abu Dawud no. 3664, dinilai sahih oleh sejumlah ulama seperti Al-Albani)»

*Ya Allah, anugerahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang ikhlas, lisan yang jujur, dan akhir kehidupan yang Engkau ridhai. Āmīn.*

Editor : Ust M. Ismail Chair Tanjung, Sh.I