Categories: News

Saat Trump Menyebut Pangeran Arab Mencium Pantatnya

SAUDI ARABIA, PROMEDIA.NEWS | Rekaman C-SPAN dari Saudi Investors Forum di Miami, 27 Maret lalu menunjukkan, di sana Donald Trump, orang yang seolah-olah memiliki hak paten atas kata “menang”, berdiri di podium dengan kepercayaan diri yang meluap. Ia memuji Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). 

Namun, sejurus kemudian, pujian itu meluncur turun menjadi hinaan yang begitu vulgar.

Trump menyebut MBS, sang penguasa de facto negeri kaya minyak itu, harus “menjilat” Amerika Serikat. Bahkan dengan diksi yang jauh lebih kasar: “mencium pantatnya”.

Logika awam mengatakan, ini akhir dari sebuah persahabatan. Mana ada harga diri seorang pemimpin bangsa, apalagi pewaris tahta penjaga dua kota suci, yang rela diinjak sedemikian rupa di depan publik?

Namun, alih-alih menarik diri, Arab Saudi justru datang membawa “mahar” yang membuat mata terbelalak: komitmen investasi 600 miliar dolar AS untuk Amerika!

Angka sebesar itu belum termasuk kontrak Riyadh Air dengan Boeing senilai 20 miliar dolar, hingga penguasaan saham di sektor gim, teknologi, dan properti melalui Public Investment Fund (PIF). Sekitar 40 persen investasi mereka kini tertanam di jantung ekonomi Amerika.

Di permukaan, ini adalah relasi yang sangat mesra. Trump menelepon MBS sebagai pemimpin asing pertama yang ia hubungi setelah kembali berkuasa. Saudi bahkan menjadi panggung megah tempat Rusia dan Amerika Serikat —dua musuh bebuyutan—duduk satu meja di bulan Februari lalu untuk bicara soal Ukraina.

Namun, di balik jabat tangan yang hangat dan karpet merah yang digelar di Riyadh, ada aroma yang aneh. Kita melihat sebuah hubungan yang intim namun tidak setara. Sebuah persahabatan yang berdiri di atas pondasi “merendahkan”.

Saudi memberi makan ekonomi Amerika, sementara Amerika melalui mulut Trump memberi makan ego nasionalisnya sendiri dengan menghina sang pemberi makan.

Ketegangan yang sesungguhnya bukan terjadi di podium pidato, melainkan di sumur-sumur minyak dan peta Jalur Gaza. Trump ingin harga minyak turun demi senyum pemilihnya di Texas, sementara MBS butuh harga minyak tetap tinggi agar ambisi Vision 2030-nya tidak sekadar jadi tumpukan kertas laporan.

Lalu masuklah isu Gaza. Trump, dengan gaya khasnya yang seolah sedang bermain monopoli, dengan enteng mengusulkan agar Amerika “mengambil alih” Gaza setelah penduduknya diusir ke negara tetangga. Bahkan, muncul narasi gila dari Benjamin Netanyahu yang menyebut Palestina sebaiknya jadi “Negara Saudi” saja karena wilayah Saudi sangat luas.

Saudi berdiri tegak. Mereka menolak. Mereka bersikeras pada solusi dua negara. Mereka menggunakan hukum internasional sebagai perisai. Namun, di saat yang sama, mereka tetap mengalirkan triliunan dolar ke dalam sistem ekonomi negara yang justru sedang merongrong prinsip-prinsip kedaulatan mereka.

Kita sering menyangka bahwa uang adalah kekuatan, dan penghinaan adalah kelemahan. Kita mengira MBS adalah pihak yang kalah karena dihina sebagai “penjilat” oleh Trump.

Namun, siapa yang sebenarnya lebih tidak berdaya? Sang pangeran yang “mencium pantat” demi mengamankan pengaruh globalnya, atau sang presiden yang harus terus-menerus menghina rekan bisnisnya hanya untuk menutupi kenyataan bahwa ekonomi negaranya sedang disokong oleh uang dari orang yang ia hina tersebut?

Ada kegetiran yang luar biasa. Amerika butuh uang Saudi untuk tetap tegak, tapi mereka terlalu sombong untuk mengakuinya. Sementara Saudi punya uangnya, tapi mereka terlalu sadar akan posisi geopolitiknya sehingga memilih untuk menelan hinaan demi sebuah kursi di meja besar dunia.

Di level tertinggi diplomasi dunia, martabat hanyalah variabel yang bisa ditawar, selama angka di buku tabungan tetap bertambah. Kita menyaksikan sebuah hubungan yang “sangat erat namun sekaligus sangat rapuh”.

Dan yang paling mengejutkan, barangkali dunia ini tetap damai bukan karena para pemimpinnya saling menghormati, melainkan karena mereka saling membutuhkan dengan rasa benci yang dipendam dalam-dalam.

Sang majikan sebenarnya adalah budak dari uang sang pelayan, dan sang pelayan sebenarnya adalah majikan yang menyamar jadi penjilat.

Tapi dalam kasus ini, jangan-jangan Trump yang malah sedang menjilati pantat Sang Pangeran, seperti kebiasaannya menjilat-jilati apa saja yang dirasa menyenangkan.

Cobalah buka file Epstein agar lebih jelas dan akurat!

Penulis: Pepih Nugraha.  https://www.facebook.com/share/1E8VZiy5UH/

By: Syafaruddin Sikumbang.

redaksipro

Recent Posts

LIPPSU: Mengurus Kebun PSU Seluas 14.276 Hektare Dengan Jurus “Sambar Gledek”, Puluhan Miliar Rupiah Uang Ikut Tersambar Petir

MEDAN, PRIMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Sabtu…

1 Juni 2026

Ada Ketua Kelas di Pemprovsu Ingin Preteli Proyek RS Haji Rp484 Miliar?

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…

1 Juni 2026

John Ester Lase : Rehabilitasi Puskesmas Medan Sudah Dirancang Matang

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata…

1 Juni 2026

LIPPSU: Hanya Pendekar Mabuk Yang Bisa Batalkan Putusan MA dan PK

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, menyoroti…

1 Juni 2026

LIPPSU: Tok, Tok, Tok… Putusan MA dan PK Sudah Sah, PT Sompo Insurance Wajib Penuhi Hak Konsumen dan Jangan “Lari Malam”

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif LIPPSU, Azhari AM Sinik, Minggu (31/5/2026), menyoroti belum tuntasnya sengketa…

1 Juni 2026

LIPPSU: Sudah Tahu Ada Gangguan Blackout PLN Tapi Mengapa Didiamkan Saja Sampai Rakyat Menjerit-Jerit, Lalu Minta Maaf

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Minggu…

1 Juni 2026