Categories: News

MBG = Maling Berkedok Gizi; Prabowo Sang Napoleon MBG

Jakarta, 23 Maret 2026.

JAKARTA, PROMEDIA.NEWS | Pernyataan paling aneh dari seorang Presiden ketika menjawab Najwa Shihab mengenai kritik terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah: “… saya akan bertahan sedapat mungkin, daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan.”

Dipikirnya Hanya Ada Dua Pilihan; Jalankan MBG atau Duitnya Di Korupsi!!

Padahal tidak selalu begitu. Ada pilihan C, misalnya: model MBG yang sekarang dihentikan dan diganti dengan model yang lebih terukur serta efisien, dengan menarget kelompok paling rentan dan miskin. Selebihnya, anggaran dipakai untuk membenahi sanitasi dan air bersih yang menurut berbagai riset menjadi penyebab utama stunting.

Artinya, dikotomi pilihan Presiden itu tidak benar. Penolakan terhadap ruang kritik ini semakin menunjukkan corak kepemimpinannya sebagai ayah yang merasa paling tahu (father knows best leadership).

Argumen lainnya pun tidak valid karena cenderung didasarkan pada rasa iba terhadap seorang anak berusia 11 tahun, tetapi fisiknya seperti anak 4 tahun. Rasa iba itu manusiawi. Stunting juga fakta. Namun, cerita tragis tak bisa terus-menerus dijadikan landasan berpikir sebuah kebijakan publik. Jika emosi yang ditonjolkan, itu sama saja dengan pemerintah membingkai kritikus MBG sebagai manusia-manusia yang tidak peduli pada anak miskin.

Presiden mengeluhkan birokrasi yang korup: budaya Asal Bapak Senang (ABS), kebocoran anggaran di mana-mana, hingga gaya hidup pejabat yang bermewah-mewah. Tapi, ia justru menciptakan model “birokrasi” baru yang belum tentu lebih baik—bahkan bisa jadi lebih korup: 30 ribu dapur MBG dan 80 ribu Koperasi Merah Putih (KMP). Jika diakumulasi, anggaran keduanya bisa mencapai Rp800 triliun per tahun‼️

Artinya, ia menjanjikan efisiensi dari penutupan kebocoran birokrasi lama dengan cara menciptakan titik-titik kebocoran baru yang jauh lebih banyak.

Jika titik kebocorannya makin banyak, maka semakin besar pula biaya untuk mengawasinya.

Memamerkan klaim keberhasilan di satu atau dua desa binaan (seperti Desa Gejuk Jati) tidak secara logis menjamin keberhasilan program di 30.000 dapur di seluruh Indonesia. Keberhasilan skala kecil (mikro) sering kali gagal ketika direplikasi secara massal (makro) karena kompleksitas logistik yang berbeda.

Dengan model MBG dan KMP seperti sekarang, saya pikir 40%–50% anggaran rawan bocor (Rp320 triliun–Rp400 triliun). Orang akan cenderung menjadikan dapur MBG dan KMP sebagai bisnis pribadi/kelompok dan basis politik, ketimbang sebagai entitas pelayanan publik yang profesional serta bermutu.

Mengutip Rockefeller Institute dan World Food Program yang menyebut MBG sebagai investasi terbaik dengan pengembalian 7 hingga 35 kali lipat memang kelihatan “keren”, tapi belum tentu tepat. Kebijakan di negara maju belum tentu memiliki hasil yang sama di Indonesia tanpa penyesuaian konteks, seperti rantai pasok dan integritas aparat lokal. Apalagi ia bilang sendiri: birokrasi kita korup.

Saya tangkap Presiden menggunakan logika berputar-putar: MBG membutuhkan uang besar yang akan menciptakan ekonomi, dan ekonomi itu menghasilkan uang yang akan membiayai MBG. Logika ini mengasumsikan efek pengganda (multiplier effect) berupa jutaan lapangan kerja melalui dapur dan ekosistem vendor terjadi secara cepat serta sempurna. Ia lupa pada logikanya sendiri mengenai kebocoran distribusi atau inefisiensi birokrasi—hal yang ia keluhkan sendiri dan seharusnya itulah yang harus dia fokuskan untuk dibenahi.

Saya pikir Presiden perlu cara selain diskusi berjam-jam sampai dini hari untuk memenangkan hati masyarakat. Mengundang orang untuk memuji-muji Presiden, yang bahkan sampai diserupakan dengan Napoleon, ternyata tidak terlalu ampuh mendorong narasi bahwa pemerintah betul-betul berjuang untuk rakyat.

Tidakkah dibayangkan jika Presiden benar-benar seperti Napoleon yang dalam pertemuan Dresden (1813) pernah berkata: “Saya tumbuh di medan perang, dan seorang pria seperti saya tidak peduli dengan nyawa satu juta orang…”?

Bisa-bisa orang menganggap, pantas saja selama ini kasus keracunan MBG dianggap sepele.

Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.

Penulis: Agustinus Edy Kristianto https://www.facebook.com/share/1C8NVeRgBJ/

By: Syafaruddin Sikumbang,

redaksipro

Recent Posts

Ketika Harus Menyaksikan Hembusan Nafas Terakhir dari Orang yang Kau Cintai

Oleh : Ust Abdul Latif Khan MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Setiap manusia yang hidup pasti meninggal…

2 Juni 2026

Kubur Bukan Tempat Kematian, Ia Adalah Gerbang Kehidupan yang Baru

Oleh : Ust Abdul Latif Khan MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Banyak orang memandang kubur sebagai akhir…

2 Juni 2026

“Para Penghuni Neraka”

Oleh : Ust Abdul Latif Khan MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Serial Muhasabah dari Mihrab Maya hari…

2 Juni 2026

Mobil Isuzu Panther Touring Milik Kristina Digelapkan Anak Tiri

DELI TUA, PROMEDIA. NEWS - Kristina (55) warga Kelurahan Delitua Timur melaporkan dua anak tirinya…

2 Juni 2026

Hukum Harus Menjadi Raja, Bukan Alat Kekuasaan

Oleh : Suardi, SH MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Pernyataan mantan Wakapolri, Komjen Pol. (Purn.) Oegroseno, dalam…

2 Juni 2026

Paryono, Mantan Atlet Voli Nasional yang Tak Pernah Berhenti Mengabdi untuk Pembinaan Generasi Muda

MEDAN, PROMEDIA. NEWS - Nama Paryono tentu tidak asing bagi kalanganv pecinta bola voli Indonesia,…

2 Juni 2026