News

Epistemologi dan Praksis Kepemimpinan: Integrasi Khosyah dalam Dialektika Intelektual-Ulama

Medan, 23 Maret 2026.

MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Diskursus mengenai kepemimpinan dalam ruang akademik kontemporer sering kali terjebak dalam teknokrasi yang hampa nilai, di mana efisiensi manajerial mengungguli integritas moral.

Untuk melampaui kebuntuan ini, diperlukan sebuah reorientasi epistemologis yang menempatkan konsep khosyah sebagai jangkar utama dalam formasi intelektual.

Secara teologis, kedudukan ulama atau ilmuwan sejati tidaklah dipancangkan melalui akumulasi gelar formal, melainkan melalui eksklusivitas ketakwaan transendental yang lahir dari pengenalan mendalam terhadap keagungan Tuhan.

Konsep ini memosisikan intelektual bukan sekadar sebagai produsen pengetahuan, melainkan sebagai penjaga gawang moralitas yang otoritasnya bersumber dari akuntabilitas langsung kepada Sang Pencipta, melampaui segala bentuk tekanan politik maupun materialisme pragmatis yang sering kali mereduksi kebenaran demi kepentingan sesaat.

Secara historis, kemunculan kelas intelektual-ulama merupakan konsekuensi sosiopolitis pasca-era kenabian yang menuntut adanya otonomi pemikiran dalam menjaga transmisi nilai di tengah kompleksitas peradaban.

Genealogi otoritas ini membuktikan bahwa kekuatan intelektual yang sesungguhnya terletak pada keberanian untuk menjaga jarak kritis dari hegemoni kekuasaan yang absolut, sebagaimana tercermin dalam lintasan sejarah Islam klasik hingga periode pergerakan nasional Indonesia.

Transformasi dari otoritas tradisional menuju institusionalisasi keilmuan dalam sistem pendidikan seperti pesantren dan madrasah mencerminkan upaya sistematis untuk menciptakan ruang publik yang mandiri.

Tokoh-tokoh seperti Buya Hamka menjadi representasi nyata dari integritas ini, di mana ketakutan kepada Allah mengalahkan rasa takut terhadap represi politik, sehingga demokrasi yang diperjuangkan bukan sekadar prosedur elektoral, melainkan sebuah “Demokrasi Takwa” yang berakar pada kedaulatan Tuhan dan keadilan sosial.

Dalam perspektif sosiologis, intelektual harus bertransformasi menjadi figur organik yang menjembatani kebutuhan tatanan sosial dengan makna spiritual, sekaligus menjadi perekat bagi kohesi masyarakat yang retak.

Kepemimpinan yang berlandaskan khosyah menuntut adanya dekolonialisasi pemikiran untuk membongkar narasi-narasi eksploitatif dan menggantinya dengan sistem yang menghargai martabat kemanusiaan.

Hal ini berimplikasi pada tanggung jawab intelektual untuk melakukan audit moral terhadap tata kelola publik dan kebijakan ekonomi yang tidak berpihak pada kaum mustad’afin.

Keberpihakan ini bukanlah sekadar pilihan sosiopolitis, melainkan manifestasi dari tauhid sosial yang melihat setiap bentuk ketidakadilan sebagai pelanggaran terhadap hukum ilahi yang harus direspons dengan keberanian ilmiah dan keteguhan prinsip.

Oleh karena itu, integrasi antara kedalaman sains dan getaran spiritual menjadi prasyarat mutlak dalam kurikulum kepemimpinan masa depan.

Universitas harus menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin dengan visi transendental, yang mampu mengelola sumber daya negara dengan transparansi sebagai bentuk ibadah.

Dengan menempatkan setiap riset akademik dan kebijakan publik di bawah bayang-bayang pertanggungjawaban akhirat, kita memastikan bahwa kemajuan peradaban tidak akan kehilangan ruh etikanya.

Sintesis antara ketaatan mutlak kepada Tuhan dan pengabdian total kepada kemanusiaan inilah yang akan membawa Indonesia menuju tatanan yang beradab, di mana kedaulatan rakyat dijalankan oleh individu-individu yang paling takut kepada Allah dalam setiap jengkal langkah kepemimpinannya.

Penulis: Shohibul Anshor Siregar. https://www.facebook.com/share/1DVFx6YKqB/

By: Syafaruddin Sikumbang.

 

redaksipro

Recent Posts

LIPPSU: Mengurus Kebun PSU Seluas 14.276 Hektare Dengan Jurus “Sambar Gledek”, Puluhan Miliar Rupiah Uang Ikut Tersambar Petir

MEDAN, PRIMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Sabtu…

1 Juni 2026

Ada Ketua Kelas di Pemprovsu Ingin Preteli Proyek RS Haji Rp484 Miliar?

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…

1 Juni 2026

John Ester Lase : Rehabilitasi Puskesmas Medan Sudah Dirancang Matang

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata…

1 Juni 2026

LIPPSU: Hanya Pendekar Mabuk Yang Bisa Batalkan Putusan MA dan PK

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, menyoroti…

1 Juni 2026

LIPPSU: Tok, Tok, Tok… Putusan MA dan PK Sudah Sah, PT Sompo Insurance Wajib Penuhi Hak Konsumen dan Jangan “Lari Malam”

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif LIPPSU, Azhari AM Sinik, Minggu (31/5/2026), menyoroti belum tuntasnya sengketa…

1 Juni 2026

LIPPSU: Sudah Tahu Ada Gangguan Blackout PLN Tapi Mengapa Didiamkan Saja Sampai Rakyat Menjerit-Jerit, Lalu Minta Maaf

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Minggu…

1 Juni 2026