Categories: News

Wajah Buram Pendidikan Kita, Sebuah Cermin Yang Terlupakan Antara Ilmu yang Hilang Ruhnya, dan Akhlak yang Kian Pudar

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Oleh: Ust. Abdul Latif Khan
(Pembina Al Hijrah Islamic Global School)

MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Potret dunia pendidikan kita yang semakin hari semakin gelap. Pendidikan yang tidak memiliki ruh dan adab (ahklak). Pendidikan hanya cuma transfer ilmu atau bikin pintar, namun kehilangan Ruh dan Adab.

Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu bertanya dengan jujur:

Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dunia pendidikan kita?

Di luar sana, gedung-gedung sekolah berdiri megah. Kurikulum silih berganti diperbarui. Teknologi masuk ke ruang kelas. Namun mengapa hati-hati anak kita justru terasa semakin kosong? Mengapa ilmu tidak lagi menenangkan, dan sekolah tidak lagi menumbuhkan?

Barangkali, kita tidak sedang kekurangan sistem, tapi sedang kehilangan ruh.

 

1. Ketika Ilmu tidak lagi menghidupkan

Hari ini, banyak anak mampu membaca tapi tak mampu memahami. Mereka menghafal tapi tidak meresapi. Mereka tahu banyak hal tapi tidak mengenal Tuhannya.

Padahal Allah telah mengingatkan:

> “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Namun lihatlah hari ini :

Berapa banyak yang berilmu, tapi lisannya dusta?

– Berapa banyak yang cerdas, tapi hatinya gelap?

Ilmu telah kehilangan cahayanya, karena ia tidak lagi mengantarkan kepada Allah.

 

2. Ketika Adab Mulai Menghilang

Pada masa lalu, para

murid memandang guru dengan hormat, santun dan beradab. Namun hari ini, sebagian berani menatap dengan amarah. Bahkan ada yang sampai mengangkat tangan kepada gurunya.

Kasus demi kasus bermunculan :

Murid memukul guru,

melawan di kelas,

bahkan ada yang sampai menghilangkan nyawa gurunya, Astaghfirullah.

Ini bukan sekadar kenakalan. Ini adalah tanda bahwa adab sedang sekarat. Karena sesungguhnya ketika adab hilang, maka ilmu pun tidak akan membawa keberkahan.

 

3. Sekolah Yang Kehilangan Jiwa

Sekolah hari ini sering kali hanya menjadi tempat mengejar angka. Nilai tinggi menjadi kebanggaan. Ranking menjadi tujuan. Ijazah menjadi impian.

Namun, siapa yang masih bertanya:

“Apakah anak ini jujur?”

“Apakah ia berakhlak?”

“Apakah ia mengenal

Rabb-nya?”

Kita sibuk memperindah angka, tapi lupa memperbaiki jiwa.

 

4. Anak-anak Yang Lelah Dalam Diam

Di balik seragam mereka, ada jiwa-jiwa yang lelah. Tuntutan nilai, hanya harapan orang tua, persaingan yang tak kenal jeda.

– Mereka tersenyum di luar, tapi menangis di dalam.

– Belajar bukan lagi kebutuhan, tapi tekanan.

– Sekolah bukan lagi tempat tumbuh, tapi tempat bertahan.

 

5. Jurang Yang Semakin Dalam

– Di satu tempat, anak belajar dengan layar digital.

– Di tempat lain, anak belajar tanpa meja.

– Di satu kota, ilmu berkembang pesat.

– Di pelosok negeri, harapan berjalan tertatih.

Ini bukan sekadar perbedaan, ini adalah luka yang belum sembuh.

 

6. Kejujuran Yang Mulai Terlupakan

– Mencontek menjadi biasa.

– Kecurangan dianggap wajar.

– Nilai bisa “diatur”.

Astaghfirullah…

– Kita mungkin berhasil mencetak nilai tinggi tapi gagal menjaga kejujuran.

– Padahal kejujuran adalah ruh dari ilmu itu sendiri.

 

Muhasabah :

Di mana Kesalahan Kita ?

– Mungkin kita terlalu sibuk memperbaiki sistem, hingga lupa memperbaiki hati.

– Mungkin kita terlalu fokus pada hasil, hingga lupa pada proses.

– Mungkin kita terlalu mengejar dunia, hingga lupa tujuan akhir kita.

Padahal akar masalahnya jelas:

– Kita kehilangan nilai

– Kita menjauh dari adab

– Kita melupakan Allah dalam pendidikan.

 

Jalan Pulang : Mengembalikan Ruh Pendidikan

Masih ada harapan selama kita mau kembali.

– Kembali kepada: Ilmu yang mendekatkan kepada Allah

– Pendidikan yang membentuk akhlak

– Guru yang mengajar dengan hati

– Orang tua yang mendidik dengan cinta

Karena sesungguhnya

perubahan besar selalu dimulai dari hati yang sadar.

 

Sebuah Pertanyaan Terakhir :

– Jika hari ini anak kita pintar, tapi tidak jujur.

– Jika mereka cerdas, tapi tidak beradab

– Jika mereka berhasil, tapi jauh dari Allah

Apakah itu yang kita sebut pendidikan?

 

Renungan dari Mihrab Maya

– Ilmu tanpa akhlak adalah kegelapan

– Akhlak tanpa ilmu adalah kelemahan

Bila ketika keduanya bersatu, lahirlah manusia yang bercahaya.

Dan dari manusia seperti itulah, peradaban akan kembali hidup (SS).

Editor : Ust Ismail Chair Tanjung, S.PdI.

redaksipro

Recent Posts

LIPPSU: Hanya Pendekar Mabuk Yang Bisa Batalkan Putusan MA dan PK

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, menyoroti…

1 Juni 2026

LIPPSU: Tok, Tok, Tok… Putusan MA dan PK Sudah Sah, PT Sompo Insurance Wajib Penuhi Hak Konsumen dan Jangan “Lari Malam”

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif LIPPSU, Azhari AM Sinik, Minggu (31/5/2026), menyoroti belum tuntasnya sengketa…

1 Juni 2026

LIPPSU: Sudah Tahu Ada Gangguan Blackout PLN Tapi Mengapa Didiamkan Saja Sampai Rakyat Menjerit-Jerit, Lalu Minta Maaf

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Minggu…

1 Juni 2026

LIPPSU: Di Jepang, Pejabat Malu Jika Gagal Dan Mundur, Di Indonesia Disuruh Mundur Malah Ketawa-Ketawa

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Minggu…

1 Juni 2026

LIPPSU: Upah Pungut Di Bapenda Medan Rp 10,8 M Dan Intensif Rp 38 M Di Bapenda Sumut Masih Nyangkut Di Awang-Awang

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU) Azhari AM Sinik, menyoroti…

1 Juni 2026

LIPPSU: Rp14 Triliun Kredit Macet, BNI Medan Jangan “Lari Malam”

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…

31 Mei 2026