News

Permainan Bahasa Politik di Balik Hilangnya Aroma Teh Sidamanik

Oleh: Erni Tanjung

Aroma khas teh dari perbukitan Sidamanik kini mulai tergeser oleh bau tanah yang baru dibuka. Di balik kesejukan udara Simalungun, terselip kegelisahan warga, kebun teh yang selama puluhan tahun menjadi simbol kesejahteraan dan identitas daerah, perlahan berubah wajah.

Sebuah perusahaan perkebunan plat merah yang dulu dikenal sebagai penjaga kebun teh, kini disebut mulai mengembangkan tanaman lain yang lebih komersial. Di sejumlah titik, warga mulai melihat kegiatan pembersihan lahan dan penanaman bibit baru.

Namun menariknya, istilah “konversi kebun teh” kini tak lagi digunakan secara resmi.

Sebagai gantinya, muncul frasa baru yang terdengar lebih lembut dan diplomatis, “pemanfaatan lahan kosong”

Seorang anggota DPRD Sumatera Utara yang ditemui di Medan mengungkapkan bahwa istilah itu bukan sekadar permainan kata, melainkan strategi komunikasi politik, “Menanam di lahan yang kosong”

“Bukan mengganti kebun teh, tapi memanfaatkan lahan yang idle,” ujarnya.

“Bahasa ini sengaja dipakai untuk meredam penolakan publik”.

Namun bagi para pemerhati lingkungan di Sidamanik, istilah itu terdengar seperti kosmetik kebijakan.

“Kalimatnya manis, tapi maksudnya tetap sama,” kata Erni, dari Aliansi Pemerhati Peduli Teh Simalungun.

“Seolah ganti baju, tapi orangnya tetap sama.”

Menurut pengamatan lapangan, sebagian area yang disebut

“lahan kosong” sebenarnya masih bersebelahan dengan blok tanaman teh produktif.

“Kalau diteruskan, ekosistem air bisa rusak. Tanah di sini tidak cocok untuk tanaman monokultur besar seperti itu,” ujar seorang dosen lingkungan dari salah satu universitas di Simalungun.

Gerakan Akar Rumput yang Tumbuh di Lereng Teh

Keresahan itu kini menjelma menjadi gerakan warga lintas komunitas dari petani, mahasiswa, guru, hingga pemerhati lingkungan.

Mereka berhimpun dalam Aliansi Peduli Teh Simalungun, didukung oleh jaringan seperti LRR Indonesia, Green Teachers Indonesia, dan Peduli.

Aksi perdana berupa Long March Penyadaran Publik telah dilakukan pada 7 September lalu di Sarimatondang.

Ratusan warga berjalan kaki membawa spanduk bertuliskan “Selamatkan Teh Kami, Selamatkan Sumber Air.”

“Kami bukan menolak pembangunan, tapi menolak pengabaian,” kata Julius Sitanggang, koordinator aksi. “Teh bukan sekadar tanaman, tapi bagian dari jati diri dan ekonomi lokal.”

Senandung Diam dari Para Pengambil Keputusan

Beberapa anggota legislatif daerah mengaku sudah lima kali lebih mendatangi lokasi, namun belum berani mengambil sikap tegas.

“Mereka bilang ini kewenangan pemerintah daerah,” ujar sumber dari kalangan legislatif yang enggan disebut namanya.

“Yang lain diam saja. Ya, kita tahulah alasannya.”

Sementara itu, seorang mantan karyawan senior di lingkungan perkebunan negara mengingatkan agar kebijakan apapun tidak mengorbankan kepercayaan publik.

“Kalau perusahaan negara kehilangan rasa memiliki dari rakyat, itu tanda bahaya,” ujarnya singkat.

Puncak aksi berikutnya dijadwalkan beberapa waktu lalu, di depan Kantor Bupati Simalungun, sebagai bentuk seruan agar proyek tanam baru di areal teh dihentikan sementara sampai ada kajian ekologis yang transparan.

Bagi warga Sidamanik, perjuangan ini bukan sekadar mempertahankan daun teh, tapi menjaga sumber air, mata pencaharian, dan masa depan anak cucu.

“Teh kami bukan sekadar komoditas,” ujar seorang ibu di tengah kebun. “Ini napas kami. Kalau teh hilang, Sidamanik akan kehilangan jiwanya. (*)

redaksi2

Recent Posts

Lima Rumah Rusak akibat Ledakan Dahsyat di Grand Polonia Medan. Ada apa?

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Suara ledakan dahsyat menggegerkan warga dan pengguna jalan di seputaran Jalan Perhubungan…

20 Juli 2026

LIPPSU: Kepling Disuruh Nobar Sambil Teriak Teriak, Pulang Subuh Dibentak Istri Tuntut Upah Pungut Yang Masih Disembunyikan Di Meja Kepala Bapenda Medan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU) menyoroti keluhan para Kepala Lingkungan…

20 Juli 2026

Aliran Uang Haram Diduga ‘Mengalir’ Di Bawah Meja Kapolres Binjai Sebagai Upeti di Balik Judi ‘Las Vegas’ Binjai

BINJAI, PROMEDIA.NEWS - Deru mesin ketangkasan dan aroma asap rokok menyeruak dari sebuah bangunan samar…

20 Juli 2026

Dugaan Korupsi & Jual Beli Menguat, JAGA MARWAH: Banyak Pejabat Bermasalah Dilantik di Kepemimpinan Rico Waas

MEDAN – Di tengah euforia masyarakat menyambut keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026, perhatian publik…

20 Juli 2026

Dana BOS Miliaran, Kepala SMAN 1 Batang Kuis Diduga Pungli Siswa Baru Rp100 Ribu per Siswa

DELI SERDANG, PROMEDIA.NEWS - Awal tahun ajaran baru 2026, SMAN 1 Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang,…

20 Juli 2026

Aseng Kayu Mafia Judi Brahrang Binjai Kebal Hukum, Didemo AFMS “Dikeker” Poldasu

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Polda Sumatera Utara berjanji akan menindaklanjuti laporan warga terkait awetnya judi milik…

20 Juli 2026