Kisah Nyata: Israel Hampir Berdiri di Argentina, Bukan di Timur Tengah. (Ilustrasi AI).
TEL AVIV, PROMEDIA.NEWS | Tahukah Anda bahwa negara Israel yang kita kenal di Timur Tengah hari ini hampir berdiri di ujung selatan Amerika Selatan? Pada akhir abad ke-19, para pemimpin gerakan Zionis sempat mempertimbangkan wilayah Patagonia di Argentina sebagai calon tanah air bangsa Yahudi, jauh sebelum akhirnya memilih Palestina.
Kisah ini bermula dari tokoh kunci gerakan Zionis modern, 𝗧𝗵𝗲𝗼𝗱𝗼𝗿 𝗛𝗲𝗿𝘇𝗹, seorang jurnalis dan pengacara Yahudi asal Austria-Hungaria. Pada tahun 1896, ia menerbitkan buku berjudul 𝗗𝗲𝗿 𝗝𝘂𝗱𝗲𝗻𝘀𝘁𝗮𝗮𝘁 (Negara Yahudi). Dalam buku tersebut, Herzl secara eksplisit menawarkan dua kandidat lokasi bagi tanah air bangsa Yahudi yang saat itu tengah menghadapi antisemitisme dan diskriminasi brutal di Eropa: Palestina atau Patagonia di Argentina.
Mengapa Argentina dipilih sebagai opsi serius? Beberapa alasan menjadikan negara Amerika Selatan itu menarik:
Sejak tahun 1891, organisasi 𝗝𝗲𝘄𝗶𝘀𝗵 𝗖𝗼𝗹𝗼𝗻𝗶𝘇𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻 𝗔𝘀𝘀𝗼𝗰𝗶𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻 (𝗝𝗖𝗔) yang didirikan oleh Baron Maurice de Hirsch—seorang dermawan Yahudi-Prancis—telah membeli lahan seluas lebih dari 600.000 hektar di Argentina. JCA kemudian membangun koloni-koloni pertanian Yahudi yang cukup sukses, seperti 𝗠𝗼𝗶𝘀𝗲𝘀 𝗩𝗶𝗹𝗹𝗲 (didirikan 1889) dan 𝗠𝗮𝘂𝗿𝗶𝗰𝗶𝗼 𝗛𝗶𝗿𝘀𝗰𝗵 (1892). Ribuan imigran Yahudi dari Kekaisaran Rusia dan Rumania telah menetap di sana.
Bahkan, pada tahun 1903, usulan untuk mendirikan tanah air Yahudi di Argentina mendapat dukungan kuat dari 𝗚𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗭𝗶𝗼𝗻𝗶𝘀 pada Kongres Zionis ke-6 di Basel. Namun, ada satu masalah besar yang menghalangi.
Pemerintah Argentina—meskipun bersahabat dan mendukung imigrasi—tidak pernah bersedia memberikan 𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗸 𝗸𝗲𝗱𝗮𝘂𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵 bagi bangsa Yahudi di wilayah Patagonia. Bagi Argentina, imigran Yahudi hanyalah bagian dari program kolonisasi, bukan calon pendiri negara merdeka di dalam wilayah Argentina.
Herzel dan para pemimpin Zionis sadar sepenuhnya bahwa tujuan utama gerakan mereka bukan sekadar tempat berlindung, melainkan 𝗻𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗬𝗮𝗵𝘂𝗱𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗮𝘂𝗹𝗮𝘁, dengan pemerintahan sendiri, tentara sendiri, dan hak menentukan nasib sendiri. Tawaran Argentina tidak akan pernah bisa memenuhi syarat itu. Akhirnya, opsi Patagonia perlahan ditinggalkan.
Di sisi lain, Palestina memiliki keunggulan yang tidak bisa ditandingi:
𝟭. 𝗜𝗸𝗮𝘁𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗿𝗲𝗹𝗶𝗴𝗶𝘂𝘀 𝗿𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻. Palestina adalah tanah leluhur bangsa Yahudi, tempat berdirinya Kerajaan Israel kuno, Bait Suci, dan pusat spiritualitas Yahudi.
𝟮. 𝗗𝘂𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗶𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗸𝘂𝗮𝘁. Deklarasi Balfour 1917 dari Inggris, mandat Liga Bangsa-Bangsa, serta jaringan lobi Zionis di Eropa dan Amerika membuat Palestina menjadi opsi yang lebih realistis secara diplomatik.
𝟯. 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹𝗶𝘀𝗺𝗲 𝗱𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗴𝗶𝘁𝗶𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗺𝗼𝗿𝗮𝗹. Bagi gerakan Zionis, kembali ke Palestina adalah “kembali ke rumah”, bukan sekadar kolonisasi di negeri asing.
Bayangkan jika seandainya para pemimpin Zionis memilih Patagonia. Maka sekarang akan ada sebuah negara Yahudi di ujung selatan Amerika Selatan, dengan ibu kota mungkin di sekitar 𝗥𝗮𝘄𝘀𝗼𝗻 atau 𝗖𝗼𝗺𝗼𝗱𝗼𝗿𝗼 𝗥𝗶𝘃𝗮𝗱𝗮𝘃𝗶𝗮. Sejarah Timur Tengah akan sangat berbeda: tidak ada konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan, tidak ada perang Arab-Israel, dan mungkin jutaan nyawa terselamatkan.
Namun di sisi lain, negara Yahudi di Patagonia mungkin akan menghadapi tantangan lain: isolasi geografis, populasi yang kecil, dan potensi konflik dengan Argentina sendiri jika suatu hari ingin merdeka.
Pada Kongres Zionis ke-7 tahun 1905, setelah kematian Herzl setahun sebelumnya, gerakan Zionis secara resmi menolak usulan tanah air di Argentina dan Uganda (yang juga sempat ditawarkan Inggris). Fokus akhirnya dikerahkan sepenuhnya ke Palestina.
Satu keputusan besar itulah yang akhirnya membuat Israel berdiri di Timur Tengah pada 14 Mei 1948. Dan sisanya adalah sejarah yang kita kenal sekarang: perang, konflik, intifada, dan perdamaian yang tak kunjung tiba.
Hingga kini, komunitas Yahudi di Argentina tetap menjadi salah satu yang terbesar di dunia—sekitar 300.000 jiwa—sebagai peninggalan dari “jalan yang tak diambil”. Dan koloni pertanian Moises Ville di Provinsi Santa Fe masih berdiri sebagai museum hidup, mengingatkan dunia pada momen ketika sejarah nyaris berbelok ke arah yang sangat berbeda.
Penulis: Panca Prawira https://www.facebook.com/share/1JQrwp8GUZ/
By: Syafaruddin Sikumbang.
MEDAN, PRIMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Sabtu…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, menyoroti…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif LIPPSU, Azhari AM Sinik, Minggu (31/5/2026), menyoroti belum tuntasnya sengketa…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Minggu…