Medan

Laporan dari Dasar Jurang: Nekropolitik “Rayap Besi” dan Busuknya Akar Ekonomi di Kota Medan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Di bawah langit Tanjung Mulia Hilir yang terik, kesunyian Taman Pemakaman Umum (TPU) Gang Wakaf tidak lagi membawa ketenangan. Di sini, batas antara yang hidup dan yang mati telah runtuh, bukan oleh mistis, melainkan oleh rasa lapar yang mekanis. Fenomena “Rayap Besi” kini telah mencapai titik nadir: mereka tidak lagi mengincar pagar perkantoran atau penutup selokan, melainkan mulai mempreteli nisan dan membongkar makam.

Ini bukan sekadar kriminalitas jalanan. Ini adalah otopsi visual atas sebuah sistem yang sedang membusuk dari bawah. Sebuah fenomena yang kita sebut sebagai Nekropolitik Ekonomi.

 

I. Anatomi Keputusasaan: Saat Moral Kalah oleh Logika Perut

Istilah “Rayap Besi” di Medan merujuk pada sindikat pencuri logam di tingkat akar rumput yang bergerak secara gerilya. Namun, eskalasi di TPU Gang Wakaf menunjukkan pergeseran psikologis yang mengerikan. Secara forensik, tindakan ini tergolong High-Risk, Low-Reward. Risiko dihakimi massa atau ditangkap polisi sangatlah besar, sementara besi tulangan dari nisan yang dihancurkan hanya bernilai puluhan ribu rupiah di pengepul.

Ketika makam simbol kehormatan terakhir dalam budaya Medan yang religius dijarah, itu menjadi sinyal bahwa Logika Bertahan Hidup (Survival Mode) telah mengubur rasa takut pada Tuhan maupun hantu. Rasa lapar telah melampaui rasa tabu.

 

II. Disonansi Anggaran: Kemewahan di Atas, Penjarahan di Bawah

Kontras realitas ini bagaikan tamparan keras bagi narasi kesejahteraan pemerintah di tahun 2026. Di saat anggaran triliunan rupiah dialokasikan untuk program-program besar, realitas di lapangan berbicara lain:

Ironi Jaring Pengaman: Sementara anggaran Makan Bergizi Nasional (BGN) menembus angka Rp335 Triliun, fenomena “Rayap Besi” di April 2026 membuktikan adanya lubang besar dalam distribusi. Program besar tersebut seakan belum mampu menyentuh nadi terdalam kantong kemiskinan urban.

Paradoks Energi & Inflasi: Klaim pemerintah mengenai pengamanan pasokan minyak luar negeri tidak serta merta menurunkan harga beras dan kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional Medan. Bagi rakyat kecil, “diplomasi energi” hanyalah teks di layar televisi; realitas mereka adalah harga sembako yang tetap meroket akibat rantai distribusi yang tersumbat.

Gap Kesejahteraan: Ada luka yang menganga ketika kita membandingkan anggaran makan-minum rapat birokrasi yang mencapai belasan miliar dengan nasib warga yang harus mempertaruhkan nyawa demi Rp50.000 dari hasil menjual besi “berdarah”.

 

III. Ekosistem Penadah: Menghidupi Pasar Gelap

“Rayap Besi” tidak bekerja di ruang hampa. Mereka adalah ujung tombak dari sebuah ekosistem pasar gelap (Shadow Market) yang mapan. Gudang-gudang barang bekas atau “botot” yang menampung hasil curian ini seringkali luput dari pengawasan hukum.

Analisis lapangan menunjukkan adanya loop yang merusak: uang hasil jarahan nisan seringkali mengalir kembali ke ekonomi bawah yang destruktif, seperti penyalahgunaan zat terlarang atau aktivitas ilegal lainnya yang menjadi pelarian dari tekanan ekonomi yang gila. Aparat seringkali hanya menangkap “pemetik” di lapangan, namun membiarkan jantung dari jaringan penadah tetap berdetak.

 

IV. Vonis Akhir: Robeknya Kontrak Sosial

Secara sosiologis, pemakaman adalah benteng terakhir martabat sebuah bangsa. Jika negara gagal mengamankan tempat istirahat terakhir warganya dari penjarahan akibat kemiskinan ekstrem, maka kontrak sosial antara rakyat dan negara telah robek di titik paling dasar.

Fenomena di Medan ini adalah Alarm Kematian Ekonomi Nasional. Kita sedang menyaksikan sebuah distopia yang terjadi di siang bolong: puncak piramida yang sibuk bersolek dengan citra dan duta-duta sekolah, sementara dasarnya sedang membusuk dan mempreteli sisa-sisa peradaban mereka sendiri.

Jika intervensi ekonomi riil bukan sekadar bantuan sosial seremonial tidak segera menyentuh akar rumput, “Rayap Besi” akan bermutasi menjadi “Rayap Sosial”. Dan ketika itu terjadi, yang mereka runtuhkan bukan lagi sekadar nisan, melainkan stabilitas sosial yang kita anggap selama ini baik-baik saja.

Laporan ini adalah pengingat: Bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa berkilau puncaknya, tapi dari seberapa aman dasar jurangnya.

Penulis: Lhynaa Marlinaa (Marlina)  https://www.facebook.com/share/1CtvyzonYV Daily Vlog | News Agregator | Citizen Journalist

Editor: Syafaruddin Sikumbang.

 

redaksipro

Recent Posts

PDI-P Disorot Soal Sikap Politik, Pengamat: Demokrasi Butuh Oposisi yang Jelas dan Pemerintah yang Siap Dikritik

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Polemik mengenai posisi politik PDI-P kembali menjadi perbincangan setelah Bendahara Umum Partai…

23 Juni 2026

Diduga Polres Belawan Terima Upeti Gelap Atas Maraknya Judi Tembak Ikan Berlogo ‘AB’

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Meski sudah berulang kali diberitakan media online terkait maraknya judi tembak ikan…

22 Juni 2026

LIPPSU Soroti Nasib Kepling Medan Jadi ‘Budak Siaga’ Jelang APEKSI, Upah Pungut Rp10 Miliar Terus Ditahan Hingga Akhir Zaman

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU) melayangkan kritik keras kepada Pemerintah…

22 Juni 2026

LIPPSU : Rp12,3 Miliar Untuk Benih Jagung

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari A.M Sinik,…

22 Juni 2026

LIPPSU: Ada Suara Nyaring “Lantai 10” Diduga Perintahkan Aksi Dukung MBG di Eks Medan Club. Rasanya Tak Mungkin Aset Bersejarah Diizinkan Jadi Titik Kumpul Unjuk Rasa

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…

22 Juni 2026

Ketika Ruang Publik Terusik Dari Dukung Mendukung Program Nasional : Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) VS Makan Bergizi Gratis (MBG)

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Belakangan ini kita disuguhkan banyaknya pro dan kontra terkait program nasional Makan…

22 Juni 2026