Bendungan-bendungan Di Batu Bara Ibarat “Dendeng Balado”, Terus “Disantap” Jadi Korupsi Berjamaah

Sumut8 Dilihat

BATUBARA, PROMEDIA.NEWS – Rentetan kerusakan bendung dan tanggul di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, terus memunculkan kemarahan masyarakat. Mulai dari jebolnya tanggul, pendangkalan bendung, hingga ancaman gagal panen dinilai bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan cermin buruk lemahnya pengawasan proyek dan dugaan praktik korupsi berjamaah pada sektor infrastruktur pengairan.

Direktur Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU) Azhari AM Sinik mengatakan, hampir seluruh bendung strategis di Batu Bara mengalami persoalan serius dalam beberapa tahun terakhir, namun hingga kini belum terlihat langkah konkret permanen yang benar-benar menyelesaikan masalah.

“Bendung di Batu Bara ini seperti dendeng balado, terus diincar jadi bancakan proyek. Rusak, diperbaiki, rusak lagi. Yang menderita masyarakat petani,” ujar Azhari, Rabu (13/5).

Kronologi kerusakan bendung di Batu Bara dimulai dari jebolnya tanggul Sungai Medang Deras pada Oktober 2023. Saat itu, hujan deras menyebabkan tanggul sungai roboh dan merendam sejumlah desa di Kecamatan Medang Deras. Warga sempat mengeluhkan lambannya penanganan dan khawatir banjir terus berulang setiap musim hujan.

Memasuki 2025, persoalan baru muncul di Bendung Tanjung Muda, Kecamatan Air Putih. Bendung yang menjadi sumber irigasi utama itu mengalami pendangkalan parah akibat sedimentasi pasir dan tumpukan material kayu dari hulu sungai.

Akibat sedimentasi tersebut, aliran air menuju saluran irigasi menurun drastis hingga ribuan hektare sawah mengalami kekeringan. Warga di Desa Tanjung Muda, Tanah Merah, Brohol, hingga kawasan perkotaan mulai memprotes kondisi tersebut karena musim tanam terganggu dan hasil pertanian menurun.

BACA JUGA :  Malam Tasyakuran MKGR Sumut: Menjaga Bara Teladan dalam Sunyi Siantar

Di tengah krisis air itu, masyarakat juga menyoroti maraknya aktivitas galian C ilegal di sekitar aliran sungai. Aktivitas pengerukan pasir menggunakan alat berat diduga memperparah erosi dan merusak struktur tanah di sekitar bendung.

“Yang dipersoalkan masyarakat bukan hanya sedimentasi, tetapi kenapa galian C ilegal dibiarkan bertahun-tahun tanpa tindakan tegas,” kata Azhari.

Belum selesai persoalan di Tanjung Muda, pada akhir 2025 proyek perkuatan tebing Sungai Dalu-Dalu yang terhubung dengan Bendung Cinta Maju kembali menjadi sorotan. Proyek bernilai miliaran rupiah itu dilaporkan retak dan ambruk sepanjang lebih dari 10 meter meski baru selesai dibangun.

Kerusakan tersebut menyebabkan tiga desa yakni Sukaraja, Aras, dan Tanah Rendah terancam banjir karena tanggul tanah terus terkikis arus sungai hingga menyisakan badan tanggul kurang dari dua meter.

Masyarakat semakin marah karena proyek yang baru selesai justru cepat rusak. Dugaan pengurangan mutu material dan lemahnya pengawasan proyek mulai mencuat.

Sejumlah lembaga pengawas bahkan menyoroti adanya indikasi pelanggaran serius dalam pengerjaan proyek tersebut, mulai dari dugaan ketidaksesuaian spesifikasi hingga potensi penyimpangan anggaran.

“Kalau proyek miliaran baru dibangun lalu langsung ambruk, publik wajar curiga. Jangan-jangan ini bukan sekadar gagal konstruksi, tetapi ada praktik korupsi berjamaah,” tegas Azhari.

Memasuki awal 2026, persoalan serupa kembali muncul di Bendungan Tanah Merah. Bupati Batu Bara saat melakukan peninjauan menemukan aliran air terus menurun akibat sedimentasi di Sungai Simanggar. Kondisi itu mengancam sekitar 3.350 hektare lahan pertanian.

BACA JUGA :  Pengunduran Diri Enam Pejabat Sumut, LIPPSU Pertanyakan Kinerja Tim Seleksi

Meski pemerintah daerah dan Balai Wilayah Sungai sempat melakukan penanganan darurat menggunakan alat berat dan karung pasir, masyarakat menilai langkah tersebut hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan.

Hingga kini, rehabilitasi permanen terhadap sejumlah bendung di Batu Bara masih sebatas rencana dan proses tender. Sementara petani terus menghadapi ancaman kekeringan, banjir, hingga gagal panen akibat rusaknya sistem irigasi.

LIPPSU mendesak aparat penegak hukum mengusut seluruh proyek bendung dan tanggul yang bermasalah di Batu Bara, termasuk menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam dugaan penyimpangan anggaran infrastruktur.

“Jangan tunggu seluruh bendung rusak total baru sibuk turun ke lapangan. Pemerintah dan aparat hukum harus membuktikan bahwa uang rakyat tidak dijadikan proyek bancakan,” pungkasnya.

Kronologis Singkat Bendung dan Tanggul Bermasalah di Batu Bara

1. Bendung Cinta Maju – Sungai Dalu-Dalu (Kecamatan Air Putih)

– Proyek perkuatan tebing dan tanggul dikerjakan sepanjang 2024 dengan anggaran miliaran rupiah.

– Akhir 2024 proyek selesai dan mulai difungsikan untuk menopang irigasi pertanian warga.

– Awal 2025 mulai muncul retakan beton dan kemiringan struktur penahan tebing.

– Desember 2025 tanggul roboh dan nyaris jebol total sepanjang lebih dari 10 meter.

– Tiga desa yakni Sukaraja, Aras, dan Tanah Rendah terancam banjir.

– Hingga awal 2026 penanganan masih bersifat darurat dan rehabilitasi permanen baru masuk tahap tender.

Masalah utama: Dugaan kualitas konstruksi lemah, debit air tinggi, dan minim pengawasan proyek.

2. Bendung Tanjung Muda (Kecamatan Air Putih)

BACA JUGA :  LIPPSU: Ratusan Tambang Ilegal di Sumut, PAD Hanya Rp4,5 Miliar — Kemana Larinya Potensi Pajak?

– Bertahun-tahun menjadi sumber irigasi utama sawah di Air Putih, Sei Suka, dan Medang Deras.

– Sepanjang 2024 debit air mulai menurun akibat pendangkalan sungai.

– Juni 2025 sedimentasi pasir semakin parah hingga aliran air tersumbat total ke saluran irigasi.

– Ribuan hektare sawah mengalami kekeringan dan petani mulai protes.

– Aktivitas galian C ilegal di sekitar sungai diduga memperparah erosi dan sedimentasi.

– Hingga Mei 2026 pemerintah baru menyiapkan rehabilitasi melalui proses tender.

Masalah utama: Sedimentasi parah, pendangkalan sungai, dan dugaan dampak galian C ilegal.

3. Tanggul Sungai Medang Deras (Kecamatan Medang Deras)

– Kondisi tanggul disebut sudah lama mengalami pengikisan sebelum kejadian banjir.

– Oktober 2023 hujan deras menyebabkan tanggul jebol dan merendam sejumlah desa.

– Warga mengeluhkan minimnya antisipasi pemerintah sebelum tanggul roboh.

– Setelah banjir, penanganan hanya dilakukan secara darurat tanpa pembenahan menyeluruh.

Masalah utama: Pengikisan tanggul, lemahnya mitigasi banjir, dan penanganan lambat.

4. Bendungan Tanah Merah – Sungai Simanggar

– Menjadi sumber irigasi penting bagi ribuan hektare lahan pertanian di Batu Bara.

– Sedimentasi sungai disebut terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

– Februari 2026 Bupati Batu Bara menemukan aliran air menurun drastis akibat pendangkalan Sungai Simanggar.

– Sekitar 3.350 hektare lahan pertanian terancam kekurangan pasokan air.

– Hingga kini penanganan masih sebatas peninjauan dan langkah darurat.

Masalah utama: Sedimentasi sungai dan tidak adanya normalisasi rutin.

Laporan : Heriyanto Budi