Kenapa Banyak Penjilat Di Sekitar Penguasa?

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ragam14 Dilihat

Oleh: Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Di sekitar kekuasaan, sering kali tidak sulit menemukan orang-orang yang selalu membenarkan.

Ketika penguasa berbicara, mereka memuji.
Ketika penguasa keliru, mereka mencari alasan.
Ketika rakyat terluka, mereka menutupi kenyataan.
Ketika kezaliman terjadi, mereka menyebutnya kebijakan.

Mereka tidak selalu bodoh.
Sebagian bahkan berilmu, berpengalaman, dan memahami kebenaran.

Namun mereka memilih diam ketika seharusnya berbicara, lalu berbicara ketika pujian dapat mendatangkan keuntungan.

Lalu kita bertanya:

Mengapa begitu banyak penjilat tumbuh di sekitar penguasa?

Karena Kekuasaan Menjanjikan Kenikmatan

Kekuasaan memiliki daya tarik yang kuat.

Di sana ada jabatan.
Ada proyek.
Ada fasilitas.
Ada akses.
Ada perlindungan.
Ada kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang sulit didapatkan oleh orang biasa.

Ketika hati terlalu mencintai dunia, seseorang dapat kehilangan keberanian untuk mengatakan yang benar.

Ia tidak lagi bertanya:

“Apakah Allah ridha?”

Ia hanya bertanya:

“Apakah penguasa senang?”

*Inilah awal kehinaan*.

Ketika keridhaan manusia lebih dikejar daripada keridhaan Allah, lidah akan mudah menjual pujian dan menyembunyikan kebenaran.

*Penjilat Tidak Mencintai Penguasa*

Jangan mengira penjilat adalah orang yang paling setia.

Ia mungkin selalu tersenyum.
Ia selalu berdiri paling dekat.
Ia paling cepat bertepuk tangan.
Ia paling keras membela.

Namun sesungguhnya, ia tidak sedang mencintai penguasa.

Ia sedang mencintai keuntungan yang berada di tangan penguasa.

Selama kekuasaan masih memberi manfaat, ia akan bertahan. Tetapi ketika kekuasaan melemah, ia dapat menjadi orang pertama yang pergi, bahkan mungkin menjadi orang pertama yang mencela.

*Penjilat bukan sahabat*.

Ia adalah pedagang pujian.

Ia menyerahkan kehormatan demi kedekatan, menjual kejujuran demi kedudukan, dan menggadaikan akhirat demi kenikmatan yang sebentar.

*Penguasa yang Suka Dipuji Akan Dikelilingi Pendusta*

Tidak semua kesalahan berada pada orang-orang di sekitar penguasa.

Kadang-kadang, penguasalah yang menciptakan lingkungan penjilat.

Ketika kritik dianggap sebagai permusuhan, orang jujur akan menjauh.

Ketika nasihat dianggap sebagai penghinaan, orang baik akan memilih diam.

Ketika hanya pujian yang dihargai, para pendusta akan datang memenuhi ruangan.

BACA JUGA :  Jockie Heruseon, Dari Anak Kampung Menuju Kursi Vice President B2B/G2C Business Telkomsel

Akhirnya, penguasa tidak lagi mendengar suara rakyat. Ia hanya mendengar gema dari keinginannya sendiri.

Semua laporan terlihat baik.
Semua keadaan disebut aman.
Semua kebijakan dikatakan berhasil.

Padahal di luar istana kekuasaan, mungkin ada rakyat yang menangis, orang kecil yang tertindas, dan keadilan yang perlahan kehilangan nyawa.

Fir‘aun pun dahulu dikelilingi oleh orang-orang yang menguatkan kesombongannya. Allah menggambarkan bagaimana ia merendahkan kaumnya, lalu mereka menaatinya.

«“Maka Fir‘aun memengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.”
(QS. Az-Zukhruf: 54)»

Kezaliman besar jarang berdiri sendirian.

Di belakangnya sering ada orang-orang yang menyediakan pembenaran.

Penjilat Membunuh Kepekaan Penguasa

Nasihat yang jujur mungkin terasa pahit, tetapi dapat menyelamatkan.

Sebaliknya, pujian palsu terasa manis, tetapi dapat menghancurkan.

*Penjilat membuat penguasa merasa selalu benar.*

Ia menutupi kesalahan.
Ia mengecilkan penderitaan rakyat.
Ia memperindah kegagalan.
Ia menyebut kelemahan sebagai keberhasilan.
Ia mengubah kezaliman menjadi seolah-olah kebijaksanaan.

Sedikit demi sedikit, hati penguasa kehilangan rasa takut kepada Allah.

Ia tidak lagi mampu membedakan antara penghormatan dan kemunafikan, antara kesetiaan dan kepentingan, antara nasihat dan ancaman.

Pada akhirnya, penguasa dapat jatuh bukan karena kurangnya kekuatan, tetapi karena terlalu lama hidup di tengah kebohongan.

Mengapa Orang Jujur Sering Tersingkir?

Karena orang jujur tidak selalu menyenangkan.

Ia berani berkata:

“Ini keliru.”

Ia berani mengingatkan:

“Rakyat sedang menderita.”

Ia berani mengatakan:

“Kebijakan ini harus diperbaiki.”

Ia tidak selalu bertepuk tangan.
Ia tidak selalu mengangguk.
Ia tidak selalu membela.

Bukan karena ia membenci penguasa, tetapi karena ia takut kepada Allah dan mencintai kebaikan.

Namun dalam lingkungan yang sakit, kejujuran sering dianggap ancaman, sedangkan kemunafikan dianggap kesetiaan.

Orang yang benar disingkirkan.
Orang yang pandai memuji didekatkan.
Orang amanah dicurigai.
Orang licik diberi posisi.

Ketika keadaan seperti ini dibiarkan, kekuasaan sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri.

*Ada Penjilat karena Ada Ketakutan*

Sebagian orang menjilat bukan hanya karena keserakahan, tetapi juga karena ketakutan.

BACA JUGA :  "Para Penghuni Neraka”

Mereka takut kehilangan jabatan :

Takut dipindahkan.
Takut dicopot.
Takut dimusuhi.
Takut kehidupannya dipersulit.

Ketakutan kepada manusia menjadi lebih besar daripada ketakutan kepada Allah.

Padahal jabatan tidak pernah lebih berharga daripada iman.

Rezeki tidak berada di tangan penguasa.
Masa depan tidak ditentukan oleh pejabat.
Kehidupan dan kematian berada di tangan Allah.

Orang yang benar-benar bertawakal tidak akan mudah menjual nuraninya hanya untuk mempertahankan kursi yang suatu hari pasti ditinggalkan.

Kekuasaan Membutuhkan Cermin, Bukan Pemuja

Seorang penguasa tidak membutuhkan orang yang terus mengatakan bahwa wajahnya selalu bersih.

Ia membutuhkan cermin yang menunjukkan noda.

Ia membutuhkan orang-orang yang berani menyampaikan kenyataan, meskipun tidak menyenangkan.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah bersyukur ketika ada orang yang bersedia menunjukkan kekurangannya.

Begitulah pemimpin yang takut kepada Allah.

Ia tidak mencari manusia yang memuja dirinya.
Ia mencari orang yang membantu menyelamatkan dirinya dari kesalahan.

Sebab jabatan bukan hanya kehormatan.

Ia adalah amanah yang akan dihisab.

Setiap keputusan akan ditanya.
Setiap kezaliman akan dibuka.
Setiap tangisan rakyat akan menjadi saksi.
Setiap hak yang dirampas akan dituntut kembali.

Maka, orang yang benar-benar menyayangi penguasa adalah orang yang berani mengingatkannya sebelum ia berdiri sendirian di hadapan Allah.

Penjilat dan Penguasa Akan Berpisah di Akhirat

Di dunia, mereka mungkin duduk dalam satu ruangan.

Saling tersenyum.
Saling memuji.
Saling melindungi kepentingan.

Namun di akhirat, setiap orang akan sibuk menyelamatkan dirinya.

Penjilat akan berkata bahwa ia hanya mengikuti perintah.

Penguasa akan berkata bahwa ia menerima laporan dari orang-orang kepercayaannya.

Namun di hadapan Allah, alasan tidak akan menghapus tanggung jawab.

Yang menzalimi akan dimintai pertanggungjawaban.

Yang membenarkan kezaliman juga akan dimintai pertanggungjawaban.

Yang mengetahui kebenaran lalu menyembunyikannya tidak akan bebas dari hisab.

Betapa banyak kedekatan di dunia yang berubah menjadi permusuhan di akhirat.

*Allah berfirman:*

«“Teman-teman dekat pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Az-Zukhruf: 67)»

BACA JUGA :  “Apakah Engkau Yakin Masih Hidup Sampai Siang, Wahai Ayah?”

Wahai Penguasa, Jangan Takut kepada Orang yang Menasihatimu

Takutlah kepada orang yang selalu membenarkanmu.

Jangan terlalu senang kepada orang yang memuji setiap keputusanmu.

Jangan mudah percaya kepada mereka yang mengatakan semuanya baik-baik saja.

Carilah orang yang masih berani berkata jujur.

Dekatkan orang yang takut kepada Allah.
Dengarkan suara rakyat kecil.
Buka pintu bagi nasihat.
Jangan menghukum kejujuran.
Jangan mengusir orang amanah.

Sebab bisa jadi, satu nasihat yang pahit menyelamatkanmu dari penyesalan yang panjang.

Dan satu pujian palsu dapat membawamu semakin jauh ke dalam kesalahan.

Wahai Orang yang Berada di Sekitar Kekuasaan

Ingatlah bahwa kedekatanmu dengan penguasa bukan hanya peluang.

Ia adalah ujian.

Engkau dapat menjadi jalan menuju kebaikan, atau menjadi bagian dari kezaliman.

Engkau dapat menjadi lisan yang menyampaikan kebenaran, atau menjadi tangan yang menutupi keburukan.

Jangan gadaikan akhiratmu demi jabatan.

Jangan tukar harga dirimu dengan fasilitas.

Jangan biarkan lidahmu memuji sesuatu yang hatimu sendiri tahu bahwa itu salah.

Suatu hari, penguasa yang engkau puji tidak akan mampu menolongmu.

Jabatanmu akan berakhir.
Fasilitasmu akan ditinggalkan.
Namamu mungkin dilupakan.

Namun setiap kata yang pernah engkau ucapkan akan tetap tercatat.

Penutup

Banyaknya penjilat di sekitar penguasa bukan hanya tanda rusaknya orang-orang yang mencari keuntungan.

Ia juga dapat menjadi tanda bahwa kekuasaan tidak lagi nyaman mendengar kebenaran.

Penjilat tumbuh ketika pujian dihargai lebih tinggi daripada kejujuran.

Mereka berkembang ketika nasihat dibungkam, kritik dihukum, dan kepentingan dunia mengalahkan rasa takut kepada Allah.

Karena itu, selamatkanlah kekuasaan dengan kejujuran.

Selamatkanlah pemimpin dengan nasihat.

Selamatkanlah diri kita dengan keberanian untuk tetap benar, sekalipun kebenaran itu tidak mendatangkan tepuk tangan.

Sebab di hadapan Allah, yang akan menyelamatkan kita bukan kedekatan dengan penguasa, melainkan kedekatan dengan kebenaran.

Jangan menjadi orang yang berdiri paling dekat dengan penguasa di dunia, tetapi berdiri paling jauh dari rahmat Allah di akhirat.

Editor : Ust M Ismail Chair Tanjung, Sh.I