JAKARTA, PROMEDIA.NEWS | Ada kegelisahan yang tidak biasa dari Ketua Umum PB NWDI Dr. TGB. HM. Zainul Majdi. Bukan soal politik lokal. Bukan pula soal dinamika kekuasaan nasional. Kali ini, yang ia soroti adalah sesuatu yang lebih dalam: arah nurani dan cara berpikir umat.
Dalam unggahannya pada Jumat, 27 Maret 2026, TGB melontarkan pertanyaan yang sederhana, tapi menghentak:
“mengapa isu pecah belah Sunni-Syiah selalu dimunculkan setiap kali Iran berperang melawan Zionis?”
Pertanyaan ini tidak lahir di ruang kosong. Ia muncul di tengah derasnya narasi media sosial yang, alih-alih membangun solidaritas terhadap penderitaan rakyat Palestina, justru sibuk membongkar perbedaan internal umat Islam.
Setiap kali Iran bergerak dalam konflik melawan Zionis—yang dalam konteks ini merujuk pada konflik dengan Israel—isu lama kembali diangkat: Sunni versus Syiah.
Padahal, bagi banyak orang awam, yang terlihat bukanlah perdebatan teologis. Yang tampak justru sebuah ironi: ketika satu pihak menghadapi musuh yang sama, sebagian lain malah sibuk mempertanyakan latar belakang mazhabnya.
TGB melanjutkan kegelisahannya dengan nada yang lebih tajam:
“mengapa banyak akun ‘salafi’ beramai-ramai mencerca dan menghujat Iran yang berani menghadapi Zionis?”
Di titik ini, kritiknya tidak lagi umum. Ia spesifik menyasar fenomena digital: akun-akun yang mengidentifikasi diri sebagai “salafi” namun aktif memproduksi konten yang cenderung menyerang Iran, bahkan dalam konteks konflik dengan Israel. Ini bukan sekadar perbedaan pandangan. Ini sudah masuk pada pola—masif, seragam, dan berulang.
Pertanyaannya menjadi relevan: apakah ini murni ekspresi ideologis? Atau ada konstruksi narasi yang lebih besar, yang secara tidak sadar justru menguntungkan pihak yang sedang berkonflik dengan umat Islam itu sendiri?
Yang paling mengusik, TGB menutup dengan kritik moral yang sulit dibantah:
“Pun saat warga Gaza dibantai, mereka mengatakan bodoh, ‘Bodoh orang Palestina itu, harusnya mereka pergi saja dari sana.’ dimana hati nurani mereka?”
Kalimat ini seperti tamparan. Karena di sini, persoalannya bukan lagi Sunni atau Syiah. Ini soal empati paling dasar: bagaimana mungkin korban justru disalahkan atas penderitaan yang mereka alami?
Narasi “harusnya mereka pergi saja” terdengar sederhana, tapi menyimpan masalah besar. Ia mengabaikan sejarah panjang konflik, menghapus hak atas tanah, dan secara tidak langsung membenarkan pengusiran. Dalam bahasa yang lebih keras: itu bukan solusi, itu pembenaran terhadap ketidakadilan.
Apa yang disampaikan TGB sebenarnya membuka lapisan yang lebih dalam tentang cara umat merespons isu global. Ada kecenderungan untuk lebih mudah terprovokasi oleh identitas daripada substansi. Lebih cepat bereaksi terhadap label daripada melihat siapa yang sedang tertindas.
Padahal, jika logika dibalik, situasinya menjadi janggal. Ketika konflik melibatkan pihak luar, mestinya solidaritas menjadi refleks pertama. Perbedaan bisa dibahas nanti. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: perbedaan didahulukan, solidaritas ditunda—atau bahkan dihapus.
Fenomena ini juga menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk persepsi. Algoritma tidak peduli pada kebenaran atau keadilan. Ia hanya memperkuat apa yang paling sering diulang. Ketika narasi memojokkan Iran terus diproduksi, ia perlahan dianggap sebagai kebenaran umum—tanpa pernah diuji secara kritis.
Di sinilah kegelisahan TGB menemukan relevansinya. Ia tidak sekedar sedang membela Iran sebagai negara. Ia sedang mempertanyakan arah berpikir umat: kenapa dalam situasi penderitaan yang nyata, fokus justru bergeser ke perdebatan identitas?
Pertanyaan ini tidak nyaman. Tapi justru karena itu penting.
Sebab jika empati bisa kalah oleh sentimen kelompok, maka yang hilang bukan hanya solidaritas. Yang hilang adalah kemanusiaan itu sendiri.
(Admin Fans Dr. TGB)
By: Syafaruddin Sikumbang.






