JAKARTA, PROMEDIA.NEWS – Ketika Tapanuli Tengah (Tapteng) sungai-sungainya berubah menjadi palu besar yang menghantam rumah warga, satu pertanyaan pun mencuat, Di mana negara saat rakyat berteriak?
Itulah pertanyaan yang, dengan sangat tenang namun tajam, disuarakan anggota DPR RI Komisi XIII, Kombes Pol (Purn) Dr. Maruli Siahaan, S.H., M.H. dalam responsnya atas banjir bandang yang meluluhlantakkan sejumlah kecamatan di Tapteng.
Hujan deras berhari-hari menggulung pemukiman, merusak infrastruktur, dan memutus harapan banyak keluarga yang malam itu hanya ingin pulang dengan selamat.
Maruli, dengan suara yang tidak meninggi tetapi menghunjam, menyampaikan keprihatinan sekaligus peringatan kepada pemerintah
“Musibah ini bukan hanya bencana alam. Ini ujian solidaritas nasional. Negara harus hadir, dan hadir dengan aksi.”
*Pemerintah Diminta Bergerak, Bukan Berwacana*
Menurut Maruli, bencana sebesar ini tidak bisa dilawan dengan pidato, melainkan dengan gerak cepat, pangan darurat, tenda pengungsian, pos kesehatan, dan evakuasi warga yang masih terjebak lumpur dan kayu-kayu besar sisa hantaman banjir.
BPBD, Pemprov, dan Pemkab harus membuka koordinasi tanpa menunggu instruksi berkepanjangan.
BNPB dan Kementerian Sosial perlu turun dengan paket pemulihan lengkap, bukan sekadar “kunjungan foto”.
DPR RI, melalui Bantuan Darurat DPR, harus memaksimalkan alokasi sembako, logistik, hingga pemulihan trauma.
“Jangan tunggu korban bertambah,” katanya, dengan nada yang sangat khas, datar, tapi menggugah.
*Mitigasi Bencana: Lubang Lama yang Terus Dibiarkan*
*Maruli tidak hanya bicara bantuan. Ia bicara pangkal persoalan.*
Menurutnya, banjir bandang seperti ini akan terus berulang jika pemerintah daerah dan pusat hanya membenahi luka, tetapi tidak memperbaiki sumbernya, lemahnya sistem peringatan dini, rapuhnya infrastruktur pengendalian banjir, hancurnya hutan sebagai penyanggah lingkungan perbukitan, penyebab utama bencana ini.
“Kalau tidak ada intervensi struktural, yang kita lakukan hanya menunggu bencana berikutnya,” tegasnya.
*Seruan Moral untuk Rakyat dan Lembaga Sosial*
Di sisi lain, Maruli juga mengajak masyarakat, NGO, organisasi keagamaan, komunitas muda, hingga partai politik agar bergerak bersama.
Ia menyerukan penggalangan donasi yang transparan, pendistribusian bantuan melalui jalur resmi, dan keterlibatan relawan untuk mempercepat pemulihan di lapangan.
“Ini bukan saatnya saling menyalahkan. Ini saatnya saling menopang,” katanya.
*DPR Akan Kawal Sampai Tuntas*
Sebagai anggota DPR, ia memastikan masalah Tapteng tidak berhenti pada pernyataan. Ia menegaskan akan membawa isu ini ke Senayan, termasuk mendorong.
*Evaluasi anggaran penanggulangan bencana,*
Maruli menyebut bahwa anggaran harus dipercepat realisasinya, bukan menunggu akhir tahun atau alasan administratif yang bertele-tele. Anggaran belanja cadangan yang ada harus segera disalurkan.
Dalam gaya khas seorang purnawirawan polisi yang kini duduk di parlemen, Maruli menyampaikan kalimat penutup yang sederhana, namun mencolok
“Negara hadir, bukan sekadar hadir. Negara bekerja.”
Di tengah rumah-rumah yang masih basah oleh lumpur, dan warga yang masih menggigil ketakutan, kalimat itu adalah harapan atau mungkin peringatan bahwa kecepatan negara sering kali menentukan panjangnya derita rakyat. (Red)












