Pyongyang, 25 Maret 2026.
PYONGYANG, PROMEDIA.NEWS | 𝗞𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗵𝘂 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗞𝗼𝗿𝗲𝗮 𝗨𝘁𝗮𝗿𝗮 𝘀𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝘂𝗷𝗶 𝗰𝗼𝗯𝗮 𝘀𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗻𝘂𝗸𝗹𝗶𝗿? 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗿𝘂-𝗯𝗮𝗿𝘂 𝗶𝗻𝗶, 𝗣𝘆𝗼𝗻𝗴𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗺𝗲𝗹𝘂𝗻𝗰𝘂𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗿𝘂𝗱𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘁𝘂𝗵 𝗱𝗶 𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁 𝗝𝗲𝗽𝗮𝗻𝗴, 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗰𝘂 𝗸𝗲𝘁𝗲𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗦𝗲𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗼𝗿𝗲𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗟𝗮𝘂𝘁 𝗝𝗲𝗽𝗮𝗻𝗴. Namun, di balik semua itu, ada alasan yang jarang dipahami banyak orang.
Korea Utara tidak meluncurkan rudal untuk memulai perang. Tujuannya justru sebaliknya: 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻. Mereka belajar dari sejarah pahit dua negara: Irak dan Libya.
Pelajaran Pahit dari Irak dan Libya
Bagi Pyongyang, nasib Saddam Hussein dan Muammar Khadafi adalah peringatan keras yang tak pernah dilupakan.
· 𝗜𝗿𝗮𝗸: Saddam Hussein pernah memiliki program senjata pemusnah massal. Namun setelah invasi AS tahun 2003, rezimnya tumbang. Saddam dieksekusi mati. Irak tanpa senjata nuklir runtuh dalam hitungan pekan.
· 𝗟𝗶𝗯𝘆𝗮: Muammar Khadafi secara sukarela membongkar program nuklirnya pada 2003 sebagai imbalan normalisasi hubungan dengan Barat. Namun pada 2011, NATO menggulingkannya. Khadafi tewas dengan cara yang keji.
Kesimpulan yang ditarik Korea Utara sangat sederhana: 𝗿𝗲𝘇𝗶𝗺 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝘀𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗻𝘂𝗸𝗹𝗶𝗿 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘁𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗮𝘀𝗶𝗻𝗴. Dengan senjata nuklir, mereka memiliki alat pencegah (deterrence) yang membuat AS dan sekutunya berpikir dua kali sebelum menyerang.
Doktrin Pencegahan Nuklir Korea Utara
Korea Utara secara resmi mengadopsi doktrin 𝗽𝗲𝗻𝗰𝗲𝗴𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗻𝘂𝗸𝗹𝗶𝗿. Bukan untuk menyerang pertama, tapi untuk memastikan bahwa tidak ada pihak yang berani menyerang mereka terlebih dahulu.
Dalam doktrin ini, Pyongyang menyatakan bahwa senjata nuklir hanya akan digunakan jika:
· Kedaulatan negara terancam
· Kepemimpinan nasional dalam bahaya
· Ada serangan nuklir atau serangan besar-besaran dari musuh
Dengan kata lain, Korea Utara tidak ingin perang. Mereka hanya ingin 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗴𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂. Sayangnya, cara mereka menunjukkan hal ini justru dengan terus menguji rudal dan bom nuklir—yang membuat tetangganya panik.
Perang China dan Rusia: Tameng Diplomatik
Inilah yang sering luput dari perhatian: 𝗖𝗵𝗶𝗻𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝘂𝘀𝗶𝗮, 𝗱𝘂𝗮 𝗮𝗻𝗴𝗴𝗼𝘁𝗮 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗗𝗲𝘄𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗮𝗺𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗣𝗕𝗕 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗸 𝘃𝗲𝘁𝗼, 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗸𝗼𝗻𝘀𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴𝗶 𝗞𝗼𝗿𝗲𝗮 𝗨𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘀𝗮𝗻𝗸𝘀𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀.
· China adalah mitra dagang utama dan penyokong ekonomi Pyongyang
· Rusia semakin dekat dengan Korea Utara, terutama setelah invasi ke Ukraina
· Keduanya kerap memveto resolusi DK PBB yang ingin menjatuhkan sanksi lebih keras ke Korea Utara
Artinya, menyerang Korea Utara bukan hanya soal menghadapi Pyongyang, tapi juga berhadapan dengan dua kekuatan besar yang siap melindunginya. Ini adalah 𝗲𝗳𝗲𝗸 𝗱𝗼𝗺𝗶𝗻𝗼 𝗴𝗲𝗼𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 yang tidak terpikirkan.
Ancaman Efek Domino: Jika Korea Utara Jatuh
Jika Korea Utara diserang atau rezimnya runtuh, konsekuensinya akan sangat besar:
𝟭. 𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝗻𝗴𝘀𝗶 𝗺𝗮𝘀𝘀𝗮𝗹 ke China dan Korea Selatan
𝟮. 𝗣𝗲𝗿𝗲𝗯𝘂𝘁𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗻𝘂𝗸𝗹𝗶𝗿 yang bisa jatuh ke tangan kelompok teroris atau pihak tak bertanggung jawab
𝟯. 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝘂𝗱𝗮𝗿𝗮 di Semenanjung Korea yang bisa melibatkan AS, China, dan Rusia
𝟰. 𝗞𝗲𝗵𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗲𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶 Korea Selatan yang menjadi mitra dagang utama dunia
Inilah mengapa China dan Rusia, meski sering kesal dengan tingkah Korea Utara, tetap melindunginya. Mereka lebih memilih Kim Jong-un yang “stabil” daripada kekacauan yang tak terkendali.
Penulis: Panca Prawira. https://www.facebook.com/share/1Tb1g24vYf/
By: Syafaruddin Sikumbang.











