Hukum

Rakyat Dukung Kapolri Jadi Petani

“Kalau di Sawah, Paling Rugi Tikus. Kalau Di Kantor, Rakyat”

Jakarta, 27 Januari 2026.

JAKARTA, PROMEDIA.NEWS | Pernyataan Kapolri yang menyebut “lebih baik jadi petani” bila Polri harus berada di bawah kementerian justru disambut hangat oleh sebagian rakyat. Bukan karena anti-polisi, tapi karena pengalaman kolektif menunjukkan: saat menjabat Kapolri, yang panen justru kasus—dan seringnya rakyat yang jadi pupuk.

“Kalau beliau jadi petani, paling gagal panen padi. Kalau tetap Kapolri, gagal panen keadilan,” ujar seorang warga sambil menyiangi rumput, dengan nada lebih jujur daripada konferensi pers.

Selama ini, publik merasa sudah terlalu sering melihat pola yang sama :

kasus besar → klarifikasi normatif → tim khusus → evaluasi internal → sunyi senyap seperti sawah habis disemprot pestisida.

Yang tumbuh bukan keadilan, tapi spanduk “kami berkomitmen”.

Maka wajar jika sebagian rakyat berpikir, bertani itu justru pilihan mulia.

Di sawah, hukum alam berlaku jelas:

  • Siapa menanam, dia menuai.
  • Siapa malas, dia kelaparan.

Tidak ada istilah “oknum tikus”, semua tikus ya tikus.

Berbeda dengan penegakan hukum, di mana tikus bisa menyamar jadi kucing, kucing jadi penjaga lumbung, dan lumbungnya… kosong.

“Kalau beliau pegang cangkul, paling salah nanam padi. Tapi kalau pegang kewenangan, salah sedikit, rakyat yang kebanjiran,” komentar netizen, yang mungkin lebih percaya irigasi desa daripada sistem pengawasan internal.

Ironisnya, profesi petani justru selama ini paling jarang dilindungi negara, tapi paling jujur hasilnya.

Petani gagal panen → dia mengaku.

Petani rugi → dia tanggung sendiri.

Tidak ada jumpa pers dengan slide PowerPoint berisi kata “koordinasi”.

Maka ketika Kapolri berkata lebih baik jadi petani, rakyat menjawab serempak:

“Silakan, Pak. Kami dukung. Demi keselamatan bersama.”

Karena di negeri ini, sawah yang rusak masih bisa ditanami ulang. Tapi kepercayaan rakyat—sekali digerus kasus—jauh lebih sulit dipulihkan.

Dan siapa tahu, di ladang yang sunyi, keadilan akhirnya bisa tumbuh…walau cuma setinggi padi, bukan setinggi jabatan. 🌾

Penulis : Yoyok Rahayu Basuki https://www.facebook.com/share/1J5FC8Uvid/

By: Syafaruddin Sikumbang.

 

redaksipro

Recent Posts

Pasrah? Pertamina Mengaku Tak Bisa Pastikan Kapan Antrean BBM di Medan Berakhir

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU Kota Medan hingga kini masih belum…

18 Juli 2026

Pembangunan Dapur MBG Di Deli Serdang Tidak Jelas, Pengelola Lapangan Resah

DELI SERDANG, PROMEDIA.NEWS - Kejelasan pembangunan sejumlah Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Deli…

18 Juli 2026

Pelimpahan Penyidikan Kasus Febrie Adriansyah dari Polisi ke Jaksa Dinilai Tidak Lazim

Oleh : Suardi, SH JAKARTA, PROMEDIA.NEWS - Pelimpahan penyidikan perkara yang melibatkan Jaksa Agung Muda…

18 Juli 2026

Pertamina Bilang BBM Di Sumut Normal, Antrean Masyarakat Belum Hilan, LIPPSU: Siapa Yang Gagal Membaca Realitas

MEDAN, PROMEDIA. NEWS - Pernyataan resmi bahwa distribusi BBM di Sumatera Utara berjalan normal kembali…

18 Juli 2026

LIPPSU: Vendor Tunggal El Nusa Petrofin Bikin Kacau, Pertamina Pura-pura Sibuk, Rakyat Jadi Korban Antre BBM

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari A.M Sinik, mendesak…

17 Juli 2026

ULAMA AKHIRAT

Oleh: Ust Abdul Latif Khan MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Ulama akhirat bukan sekadar orang yang banyak…

17 Juli 2026