News

Jejak Planters di Tanah Deli: Dari Raja-Raja Simalungun hingga Perkebunan Sawit

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Di tanah berhawa sejuk Simalungun, jejak sejarah tak hanya bersemayam di legenda dan tarombo. Dari Datu Parmata Manunggal hingga Raja Namartuah Damanik, Simalungun pernah berdiri sebagai pusat peradaban lokal yang berakar pada adat, tanah, dan persatuan. Sejarah lisan menyebutkan, marga Damanik adalah darah pertama yang mengalir di tubuh Simalungun, menjadi tulang punggung identitas kolektif.

Namun arus sejarah tak pernah berhenti. Abad ke-19, ketika para planter Eropa mendarat di Sumatera Timur, bentang alam Simalungun dan Deli memasuki babak baru.

Tanah yang dahulu dijaga raja-raja, pelan tapi pasti beralih ke tangan perusahaan perkebunan. Tembakau Deli, teh Sidamanik, hingga sawit yang kini, menandai transformasi radikal atas wajah tanah leluhur.

“Bersatulah rakyat Simalungun,” begitu seruan Raja Sang Naualuh sebelum diasingkan Belanda ke Bengkalis. Pesan itu seolah menggema hingga kini, bahwa tanah bukan sekadar lahan ekonomi, melainkan ruang hidup dan identitas.

Dalam buku, karya Dr. Mohammad Abdul Ghani

Menceritakan tentang Jejak di Ladang Kuasa di Timur Sumatra:
Jejak di Tanah Deli (1963–1996) menulis bagaimana nasionalisasi perkebunan pasca-kemerdekaan membuka babak baru. Perusahaan kolonial berganti menjadi milik negara. Tetapi di balik nasionalisasi, konflik agraria, birokrasi, dan aroma korupsi tak bisa dipungkiri, ikut mencoreng niat mulia membangun kemandirian bangsa.

Kerajaan hingga perkebunan, tanah selalu menjadi inti perebutan kuasa. Raja Damanik menjaganya dengan adat, planter kolonial menguasainya dengan modal, negara kemudian mengambil alih dengan nasionalisasi. Namun di lapangan, rakyat kecil tetap menjadi pihak yang paling rentan: petani penggarap, buruh kebun, hingga masyarakat adat yang kehilangan akses pada tanah leluhur.

Kini, ketika sawit mendominasi lanskap Sumatera Utara, pertanyaan lama kembali berulang.

Siapa sebenarnya yang menjaga warisan tanah Simalungun?

Apakah pesan Sang Naualuh tentang persatuan hanya tinggal gema, atau justru menjadi inspirasi baru bagi generasi kini untuk melawan tercerabutnya identitas dari akar sejarah?

Sejarah Damanik, legenda raja-raja, dan catatan para planter menunjukkan satu hal.

Bahwa tanah Sumatera Timur bukan sekadar hamparan ekonomi, melainkan palimpsest apisan sejarah yang saling menimpa, namun tetap menyisakan jejak. Dari mitos Parmata Manunggal hingga sawit yang menopang devisa negara, semuanya mengajarkan bahwa perebutan tanah adalah perebutan masa depan. (erni)

redaksi2

Recent Posts

Tim Terpadu Pemprov Sumut Tegaskan Komitmen dan Konsistensi Berantas “Ilegal Mining” di Madina. Tepis Asumsi Liar PETI Kotanopan

MADINA, PROMEDIA.NEWS - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) melalui Tim Terpadu menegaskan kembali sikap…

18 Juli 2026

Kenapa Semakin Langka Pemimpin Yang Shalih?

Oleh: Ust Abdul Latif Khan MEDAN, PROMEDIA. NEWS Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita tidak…

18 Juli 2026

Samsat Medan Utara Beri Hadiah Gebyar Pajak 109 Wajib Pajak Dan Ajak Masyarakat Bayar PKB Tepat Waktu

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mendorong budaya taat pajak terus diperkuat melalui…

18 Juli 2026

LIPPSU Apresiasi Silaturahmi Kapolda Sumut dan Kajatisu, Dinilai Perkuat Sinergi Penegakan Hukum

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU) mengapresiasi langkah Kapolda Sumatera Utara…

18 Juli 2026

Pasrah? Pertamina Mengaku Tak Bisa Pastikan Kapan Antrean BBM di Medan Berakhir

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU Kota Medan hingga kini masih belum…

18 Juli 2026

Pembangunan Dapur MBG Di Deli Serdang Tidak Jelas, Pengelola Lapangan Resah

DELI SERDANG, PROMEDIA.NEWS - Kejelasan pembangunan sejumlah Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Deli…

18 Juli 2026