Internasional

“Di Balik Jeruji : Ali Khomeni Muda Mengagumi Bung Karno Sebagai Tokoh Anti Imperialisme”

Medan, 6 Maret 2026.

MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Seorang tokoh abad ke-20 bernama Sukarno—yang akrab dipanggil Bung Karno dan dijuluki Putra Sang Fajar—kembali bergema dari tempat yang tak terduga: lorong sunyi penjara rezim Mohammad Reza Pahlavi di Iran. Dalam memoarnya Cell No. 14, Ali Khamenei mengenang masa mudanya sebagai tahanan politik dan menyebut Sukarno sebagai simbol besar perlawanan dunia terhadap imperialisme. Kisah singkat itu bukan sekadar nostalgia personal, melainkan fragmen sejarah yang memperlihatkan bagaimana gagasan anti-kolonial yang pernah diproyeksikan Indonesia ke panggung global mampu melampaui batas geografis, ideologi, bahkan dinding penjara—menjadikan nama Bung Karno tetap hidup sebagai inspirasi solidaritas bagi bangsa-bangsa yang menolak dominasi kekuatan besar.

Kisah itu bermula dari sebuah adegan sederhana di balik jeruji. Di sel penjara, Aku Khamenei muda berbagi jatah makanan dengan seorang aktivis komunis yang sakit dan kelaparan. Ketika sang rekan satu sel menyatakan dirinya ateis dan tidak percaya agama, Khamenei tidak menanggapinya dengan polemik teologis. Ia justru mengangkat satu nama: Soekarno.

Bagi Ali Khamenei muda, Soekarno adalah contoh bagaimana gagasan kemerdekaan dapat melampaui batas ideologi. Ia merujuk pada momentum bersejarah Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, ketika pemimpin dari berbagai latar belakang agama, ras, dan ideologi berkumpul untuk menyatakan penolakan bersama terhadap kolonialisme dan imperialisme.

Sejarah memang mencatat, Soekarno tampil sebagai salah satu motor utama konferensi tersebut. Bersama tokoh-tokoh seperti Jawaharlal Nehru, Gamal Abdel Nasser, dan Josip Broz Tito, ia merumuskan bahasa politik baru bagi negara-negara yang baru merdeka: solidaritas dunia selatan melawan dominasi kekuatan besar.

Dari Bandung pula lahir dinamika yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non-Blok—sebuah poros ketiga dalam peta dunia yang kala itu terbelah oleh rivalitas Blok Barat dan Blok Timur pada era Perang Dingin. Soekarno tidak sekadar memimpin negara baru, tetapi juga merumuskan identitas politik bagi Dunia Ketiga.

Kisah dari sel penjara Iran itu memperlihatkan dimensi lain pengaruh Soekarno. Ia tidak hanya dikenang sebagai presiden pertama Indonesia, tetapi juga sebagai simbol global perlawanan terhadap dominasi geopolitik. Nama Soekarno bahkan kerap muncul dalam refleksi tokoh-tokoh perjuangan dunia seperti Nelson Mandela, Yasser Arafat, hingga Che Guevara—mereka yang melihat Bandung sebagai inspirasi solidaritas internasional.

Soekarno Sang Proklamator Indonesia, namanya mampu mencairkan percakapan antara seorang ulama Islamis dan seorang aktivis komunis di dalam sel penjara menunjukkan daya jangkau gagasannya. Soekarno menempatkan kemerdekaan sebagai nilai universal—bukan milik satu ideologi, agama, atau blok politik tertentu.

Narasi itu sekaligus mengingatkan bahwa politik internasional tidak selalu digerakkan oleh kekuatan militer atau ekonomi semata. Ada kalanya sejarah bergerak oleh daya tarik gagasan—oleh kemampuan seorang pemimpin membangun imajinasi kolektif tentang dunia yang lebih merdeka.

Kini, ketika dinamika geopolitik kembali mengeras dan rivalitas kekuatan besar muncul dalam wajah baru, ingatan tentang Bandung memperoleh relevansi baru. Pesan yang dahulu disampaikan Soekarno tentang solidaritas bangsa-bangsa tertindas terasa kembali menemukan konteksnya.

Di balik jeruji penjara Iran, seorang pemuda bernama Ali Khamenei mengingat Soekarno sebagai simbol persatuan melawan imperialisme. Kisah kecil itu mengajarkan satu hal penting: gagasan besar tentang kemerdekaan, kedaulatan dan perdamaian memiliki umur yang jauh lebih panjang dari pada tembok penjara, rezim kekuasaan, bahkan generasi yang melahirkannya.

Pelajaran penting bagi generasi yang mencintai perdamaian namun lebih mencintai kemerdekaan adalah menjaga warisan diplomasi moral yang pernah diperagakan Sukarno di panggung dunia: membangun solidaritas bangsa-bangsa tertindas tanpa larut dalam logika kekuatan besar. Prinsip itu lahir dari semangat Konferensi Asia Afrika 1955 yang menempatkan kemerdekaan sebagai nilai universal, bukan alat legitimasi konflik geopolitik. Karena itu, kepemimpinan Indonesia masa kini semestinya meneladani keberanian Sukarno merawat politik luar negeri yang independen, bukan justru terkooptasi dalam pusaran rivalitas global yang mengubah forum perdamaian menjadi arena konfrontasi—dari Board of Peace yang idealnya menjaga stabilitas dunia, menjadi Board of War yang memperkeruh keadaan melalui eskalasi militer, termasuk serangan terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatullah Ali Khamenei (1939–2026)—sebuah tragedi yang menegaskan betapa rapuhnya komitmen internasional terhadap perdamaian ketika kepentingan geopolitik mengalahkan etika dan prinsip kemerdekaan bangsa-bangsa.

Demikian.

Penulis : Adv. M. Taufik Umar Dani Harahap, SH., Merupakan Praktisi Hukum Dan Aktivis Gerakan Rakyat Banyak.

By: Syafaruddin Sikumbang.

 

redaksipro

Recent Posts

ULAMA AKHIRAT

Oleh: Ust Abdul Latif Khan MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Ulama akhirat bukan sekadar orang yang banyak…

17 Juli 2026

Antrean Solar Berjam-jam Telan Korban Jiwa, Krisis BBM di Sumatra Kian Mengkhawatirkan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, khususnya solar, masih terjadi di sejumlah…

17 Juli 2026

FP3 Kota Medan Apresiasi Gerak Cepat SDABMBK Tangani Banjir di Tengah Tingginya Curah Hujan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Forum Pemuda Peduli Pembangunan Kota Medan memberikan apresiasi kepada Dinas Sumber Daya…

16 Juli 2026

Nelayan Diguyur Rp 14,8 M, Awasi Praktik Korupsi Model Tipu Sana, Sogok Sini

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari A.M Sinik,…

16 Juli 2026

Eks Hakim Agung Dwi Cahyo: Jika Dugaan Ijazah Jokowi Terbukti Palsu, Masuk Kategori Kejahatan Luar Biasa

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Mantan Hakim Agung Ad Hoc, Dwi Cahyo, menyampaikan pandangannya terkait polemik dugaan…

16 Juli 2026

Antrean BBM Memanas: Rapat Darurat Digelar Poldasu, Bobby Nasution Nobar Piala Dunia Di Nias

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Deretan antrian kendaraan masih terlihat panjang mengular di sejumlah SPBU Sumatera Utara…

16 Juli 2026