Medan, 28 Juni 2025.
MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Di dataran tinggi Bukit Barisan, aroma kopi bukan hanya sekadar wangi yang membangunkan pagi. Ia adalah denyut hidup, napas budaya, sekaligus harapan yang diracik dari jerih payah petani hingga menjadi secangkir kualitas dunia.
Di balik setiap tetes kopi arabika khas Lintong dan Sidikalang yang dikemas apik dengan nama TOGATO COFFEE, berdiri sosok tangguh bernama Raulan Togatorop seorang perempuan penggerak, sekaligus penjaga rempah rasa Nusantara.
Jejak Sejarah Kopi Lintong dan Sidikalang Warisan dari Tanah Tinggi Bukit Barisan Sumut. Kopi Lintong berasal dari daerah Lintong Nihuta, di Kabupaten Humbang Hasundutan, yang berada di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl, di tepi barat Danau Toba. Jenis ini dikenal sebagai Arabika Lintong, berkarakter kompleks dengan cita rasa earthy, herbal, sedikit spicy, dan aftertaste manis sangat digemari di pasar Eropa dan Jepang sejak masa kolonial Belanda.
“Kalau dulu di Jepang penikmat kopi itu kurang begitu banyak ya, dan jumlah penduduknya pun sangat sedikit tapi sekarang penikmatnya sudah sangat banyak pemesanan dari Jepang semakin banyak sekarang, “ ungkapnya
Sementara itu, Kopi Sidikalang, dari Dairi, juga termasuk varietas arabika unggul yang tumbuh di pegunungan Bukit Barisan. Sejak zaman Belanda, Sidikalang telah menjadi pusat produksi kopi premium karena tanah vulkaniknya yang subur dan iklim sejuk. Aromanya kuat, rasanya lembut namun tajam di akhir, menjadikan kopi ini salah satu legenda dari utara Sumatera.
Kini, kedua warisan ini dirawat kembali oleh pelaku usaha seperti Raulan Togatorop. Bahkan ia memiliki kebun sendiri di Siborong-borong, tempat yang terletak di jalur kopi bersejarah dan kini menjadi sumber bahan baku utama TOGATO COFFEE.
Meretas Rantai Panjang Perdagangan Kopi, bagi Raulan, membangun usaha kopi bukan sekadar menjual rasa, tapi membenahi rantai panjang yang selama ini menyulitkan petani.
“Selama ini terlalu banyak perantara. Petani ke pengumpul, lalu ke pedagang besar, diolah lagi di Medan, baru dijual ke luar. Padahal nilai tambah itu seharusnya bisa dimulai dari petani,” jelasnya.
Ia lalu mengembangkan model di mana petani bisa terlibat sejak awal, mulai dari pemilihan green bean, proses parper, perendaman, hingga pengeringan kopi secara tepat. Edukasi ini menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi bahkan masuk ke grade A, dan harganya jauh lebih tinggi.
Kopi Toba Mendunia, kini, TOGATO COFFEE DRIP telah menembus pasar ekspor. Mulai dari Jepang, Eropa, Malaysia, Australia, hingga permintaan terbaru dari China.
Di tengah lesunya ekonomi global, secangkir kopi dari Sidikalang, justru menjadi simbol kebangkitan dan ketekunan.
“Setelah melewati pandemi COVID-19, kami bangkit. Tantangan ke depan adalah menyesuaikan produk dengan pasar. Tapi kami tidak berhenti berinovasi,” ujarnya mantap.
Raulan mengaku usahanya tumbuh bukan hanya karena kegigihannya, tapi juga karena binaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Utara.
Mulai dari pelatihan kemasan, digital marketing, pengurusan izin ekspor, hingga fasilitasi ruang promosi di bandara dan PRSU (Pekan Raya Sumatera Utara).
“Lewat pelatihan kami mendapat teman satu perjuangan, tempat bertukar pikiran. Kami jadi saling menguatkan dan belajar. Kita tak lagi jalan sendiri,” ucapnya beberapa waktu lalu di Petite Cafe, Jalan Sei Blutu Medan.
“Terkadang kita mikir produk kita sudah bagus, padahal belum tentu. Mengalahkan eforia dari sendiri itu perjuangan. Tapi di situlah kita harus terus belajar,” tambahnya.
Pesan Raulan untuk Generasi Muda, terutama pelaku IKM muda di Sumut “Datanglah ke Dinas terkait, Perindustrian, Koperasi, Ketahanan Pangan, dan Dinas terkait lainnya.
“Sekarang semuanya terbuka dan mempermudah. Bahkan izin usaha diberikan gratis. Konsultan pun disediakan secara cuma-cuma. Jangan hanya mimpi, tapi harus dikerjakan.”
Untuk para anak muda yang selalu megang HP Jangan sampai HP hanya untuk hal tak berguna. Sayang, kalau tidak dipakai untuk berdagang, promosi, dan penambah penghasilan.
Kopi TOGATO bukan hanya soal rasa ia adalah cerita tentang tanah, manusia, dan masa depan. Dengan kemasan eksklusif berisi lima sachet dan filter dalam kotak, kopi ini bisa diseduh langsung seperti di coffee shop, bening tanpa ampas, dan nikmat meski tanpa gula.
“Warnanya mirip wine, merah bening, tapi ini kopi. Di ujung lidah masih terasa manusnya,” ujar Raulan tersenyum.
Produk ini bisa didapatkan di PRSU, Jalan Gatot Subroto, Medan, dengan harga sekitar Rp60.000 per kotak sekaligus menjadi buah tangan khas dari jantung Sumatera Utara.
Indonesia Negeri Rempah dan Kopi Dunia. Dari kopi hingga rempah, Indonesia adalah rahim dari kekayaan hayati dunia. Dari 40.000 jenis tanaman herbal di dunia, 30.000 di antaranya tumbuh di Nusantara.
Lintong, Sidikalang, dan TOGATO adalah tiga titik dari satu garis perjuangan mengembalikan martabat kopi kita ke panggung dunia.
Kopi bukan hanya minuman, ia adalah identitas. Ia adalah doa dari tanah, kerja dari petani, dan persembahan bagi dunia. (520)
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU) menyoroti dugaan berbagai penyimpangan dalam pelaksanaan…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU) mengapresiasi pelaksanaan Gebyar Pajak Sumut 2026…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Klaim asuransi yang diajukan pemegang polis MD-FPR-000293-000002017-08, Halomoan H, selaku nasabah PT…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…
MEDAN, PROMEDIA. NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Pengamat Kebijakan Publik dan Anggaran Ratama Saragih, S.H, CCF menyampaikan desakannya kepada…