Mengapa Harga Obat di Indonesia Lebih Mahal Di Asia Tenggara.?. Ada Persoalan Harga Dari Hulu dan Hilir Yang Jadi Penyebabnya

News142 Dilihat

Medan, 24 Maret 2026.

MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Perdebatan mengenai mahalnya harga obat di Indonesia kembali mencuat ke ruang publik. Dalam pemberitaan media nasional, Menteri Kesehatan menyampaikan bahwa tingginya harga obat dapat berkaitan dengan persoalan tata kelola dalam sistem distribusi obat. Pernyataan tersebut kemudian direspons oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti jika ditemukan indikasi pelanggaran.

Diskusi ini menjadi penting karena harga obat tidak hanya menyangkut sektor industri farmasi, tetapi juga menyentuh salah satu kebutuhan paling mendasar dalam sistem kesehatan: akses masyarakat terhadap terapi yang layak. Tanpa obat yang terjangkau, upaya diagnosis dan pelayanan medis sering kali menjadi tidak optimal.

Namun memahami mahalnya harga obat di Indonesia tidak dapat dilakukan dengan melihat satu faktor tunggal. Harga obat terbentuk melalui interaksi berbagai komponen yang kompleks, mulai dari produksi bahan baku, struktur industri farmasi global, sistem distribusi nasional, hingga kebijakan pembiayaan kesehatan.

Dengan kata lain, persoalan harga obat merupakan gambaran dari bagaimana ekosistem kesehatan suatu negara bekerja.

 

Perbandingan Harga Obat di Kawasan Asia Tenggara

Dalam berbagai kajian mengenai akses obat di negara berkembang, harga obat di Indonesia sering kali dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara. Beberapa studi yang dirujuk dalam laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa variasi harga obat antarnegara dapat mencapai beberapa kali lipat, tergantung pada sistem regulasi, mekanisme pengadaan, dan transparansi harga yang diterapkan oleh masing-masing negara.

WHO dalam laporan mengenai medicine price transparency menekankan bahwa keterbukaan informasi harga obat merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan sistem kesehatan yang efisien. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa kurangnya transparansi dalam rantai pasok farmasi dapat menyebabkan variasi harga yang besar antara satu negara dengan negara lain, bahkan untuk obat yang sama.

Jika melihat beberapa obat generik yang umum digunakan untuk penyakit kronis, pola perbandingan harga di Asia Tenggara menunjukkan kecenderungan tertentu. Obat antihipertensi seperti amlodipine, obat diabetes seperti metformin, maupun obat penurun kolesterol seperti simvastatin, dalam sejumlah laporan sering ditemukan memiliki harga yang relatif lebih tinggi di Indonesia dibandingkan negara seperti Malaysia, Thailand, atau Vietnam.

BACA JUGA :  Masyarakat Menolak Pembangunan Golplang Di Kampus V UINSU Tidak Memiliki PGB, Masyarakat Desak Bongkar

Perbedaan ini tidak selalu berarti bahwa sistem farmasi Indonesia tidak efisien, tetapi lebih menunjukkan adanya perbedaan pendekatan kebijakan kesehatan. Negara seperti Thailand memiliki sistem negosiasi harga obat nasional yang kuat melalui pengadaan terpusat. Malaysia juga memiliki mekanisme pengendalian harga obat di sektor publik yang relatif lebih ketat. Vietnam dalam beberapa tahun terakhir memperkuat sistem pengadaan nasional untuk meningkatkan efisiensi harga obat di fasilitas kesehatan.

Perbedaan desain kebijakan tersebut akhirnya berpengaruh pada harga obat yang dibayar masyarakat.

 

Ketergantungan Bahan Baku Impor

Salah satu persoalan mendasar dalam industri farmasi nasional adalah ketergantungan yang sangat tinggi terhadap bahan baku obat impor. Data dari berbagai laporan industri menunjukkan hp bahwa sekitar 85 hingga 90 persen bahan baku aktif farmasi (active pharmaceutical ingredients atau API) yang digunakan oleh industri obat di Indonesia masih berasal dari luar negeri, terutama dari Tiongkok dan India. Ketergantungan ini membuat industri farmasi domestik sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya impor bahan baku meningkat dan pada akhirnya mempengaruhi harga produksi obat di dalam negeri.

Bank Dunia dalam beberapa kajian mengenai industri kesehatan di negara berkembang menyebutkan bahwa negara yang belum memiliki industri bahan baku farmasi yang kuat cenderung menghadapi volatilitas harga obat yang lebih tinggi dibandingkan negara yang telah memiliki kapasitas produksi bahan baku sendiri.

Dengan kata lain, persoalan harga obat tidak hanya terkait distribusi atau tata niaga, tetapi juga berkaitan dengan struktur industri farmasi nasional.

BACA JUGA :  IPEPMA Labuhanbatu Raya: Tuduhan ke Kakan Kemenag Terkait Pembangunan Kantor Salah Sasaran

 

Rantai Distribusi dan Markup Harga

Selain faktor produksi, struktur distribusi obat juga berperan dalam membentuk harga akhir yang dibayar pasien.

Dalam praktiknya, obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi tidak langsung sampai kepada pasien. Produk farmasi biasanya melewati beberapa tahapan distribusi mulai dari produsen, distributor nasional, subdistributor regional, hingga fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan apotek.

Setiap tahapan tersebut memiliki biaya operasional yang mencakup transportasi, penyimpanan, sistem logistik, hingga pengawasan kualitas.

Beberapa kajian mengenai distribusi farmasi di negara berkembang menunjukkan bahwa markup distribusi dapat mencapai sekitar 20 hingga 40 persen dari harga obat sebelum sampai ke konsumen akhir. Besarnya markup ini sangat bergantung pada efisiensi sistem distribusi, struktur pasar farmasi, serta regulasi yang mengatur tata niaga obat.

Di negara kepulauan seperti Indonesia, tantangan distribusi menjadi lebih kompleks karena obat harus menjangkau wilayah yang sangat luas dan beragam secara geografis.

 

Peran BPJS Kesehatan dan Sistem E-Katalog

Dalam satu dekade terakhir, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan keterjangkauan obat melalui sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Program yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini merupakan salah satu sistem pembiayaan kesehatan terbesar di dunia. Melalui sistem tersebut, jutaan masyarakat Indonesia memperoleh akses terhadap obat yang sebelumnya sulit dijangkau secara finansial.

Salah satu instrumen penting dalam pengendalian harga obat adalah sistem e-katalog nasional. Sistem ini memungkinkan pengadaan obat dilakukan melalui proses tender terbuka dan negosiasi harga antara pemerintah dan produsen farmasi.

Dalam banyak kasus, harga obat generik dalam e-katalog dapat jauh lebih rendah dibandingkan harga pasar komersial. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme pengadaan terpusat dapat menjadi alat penting dalam menjaga keterjangkauan obat bagi masyarakat.

Namun sistem ini juga menghadapi tantangan. Industri farmasi perlu menjaga keseimbangan antara harga yang kompetitif dan keberlanjutan produksi obat. Sementara fasilitas kesehatan harus memastikan ketersediaan obat tetap stabil bagi pasien.

BACA JUGA :  Musa Rajekshah: Tidak Pernah Ada Komunikasi dengan Plt Ketua Golkar Sumut.

 

Pajak dan Kebijakan Fiskal

Faktor lain yang sering luput dari perhatian publik adalah struktur kebijakan fiskal dalam industri farmasi.

Meskipun obat merupakan produk kesehatan yang memiliki fungsi sosial penting, beberapa komponen dalam rantai produksi farmasi tetap dikenakan pajak atau bea masuk tertentu, terutama pada tahap impor bahan baku.

Biaya logistik, distribusi, serta komponen pajak dalam proses produksi akhirnya menjadi bagian dari struktur biaya industri farmasi.

Di beberapa negara, pemerintah memberikan insentif fiskal bagi industri farmasi sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan akses obat bagi masyarakat. Insentif tersebut dapat berupa pengurangan pajak, subsidi penelitian farmasi, atau dukungan terhadap pengembangan industri bahan baku obat domestik.

 

Momentum untuk Pembenahan Sistem

Diskusi mengenai mahalnya harga obat seharusnya tidak berhenti pada polemik semata. Isu ini justru dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi yang lebih menyeluruh terhadap sistem kesehatan nasional.

Penguatan industri bahan baku obat dalam negeri merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor. Efisiensi distribusi obat juga perlu terus ditingkatkan agar rantai pasok menjadi lebih efektif.

Selain itu, transparansi dalam tata kelola obat menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan.

Kolaborasi antara pemerintah, industri farmasi, tenaga kesehatan, dan lembaga pengawas menjadi kunci dalam menciptakan sistem obat yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, tujuan dari seluruh upaya tersebut adalah memastikan bahwa masyarakat Indonesia dapat memperoleh obat yang aman, berkualitas, dan terjangkau. Akses terhadap obat bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi merupakan bagian penting dari hak masyarakat atas pelayanan kesehatan yang layak.

Ketika sistem tata kelola obat dapat diperkuat dari hulu hingga hilir, harapan untuk menghadirkan akses obat yang lebih adil bagi seluruh rakyat Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil.

By : Syafaruddin Sikumbang