MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Kemarin, laporan kami mengungkap praktik “tarikan siluman” yang membelit meja-meja pajak. Target penerimaan Sumatera Utara tersandera tarif gelap yang hidup subur di balik birokrasi. Fakta itu memantik kegelisahan pegawai di Bapenda Provsu, sistem perlu dibenahi, agar PAD tidak lagi bocor ke kantong tak bertuan.
Namun alih-alih mendengar jeritan perubahan, Sekretaris Badan Pendapatan Daerah Sumatera Utara, Rudi Hadian, justru melontarkan vonis dangkal lewat akun dimedia sosialnya, ia menuding kegagalan mengejar target Rp7,2 triliun tahun 2025 bersumber dari masyarakat yang kurang patuh bayar pajak.
Satu kalimat yang menutup rapat-rapat ruang diskusi tentang perbaikan sistem, seakan masalah hanya berhenti pada masyarakat yang tak patuh.
Pernyataan Rudi Hadian bukan saja patah arang bagi pegawai yang berjuang, tapi juga membelokkan fakta. Bagaimana mungkin publik percaya, bila di satu sisi banyak “siluman” yang menghisap pendapatan di meja pajak, sementara di sisi lain pejabatnya menutup mata dan menuding masyarakat.
Bukan masyarakat yang tersandera. Yang tersandera adalah akal sehat birokrasi terperangkap dalam narasi pejabat yang memilih jalan pintas, menyalahkan yang lemah, membiarkan yang kuat.
Jika benar PAD Sumut ingin mengejar langit angka Rp7,2 triliun, maka musuh sesungguhnya bukan masyarakat, melainkan tarif gelap yang merongrong di dalam. Sayangnya, Sekretaris Bapendasu Rudi Hadian justru memilih bersembunyi di balik kalimat murahannya.
Ditempat terpisah, Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari A.M Sinik menanggapi pernyataan Sekban Bapendasu Rudi Hadian asal cakap seenaknya menuding dan memfitnah masyarakat tidak patuh bayar pajak, ini pernyataan pejabat yang menutupi kelemahan dan kebodohannya sendiri, tidak jujur dan berlagak bersih.
Ucapan Rudi Hardian itu menyinggung dan menyakiti masyarakat Sumatera Utara, baru menjabat sudah lantam memfitnah masyarakat kurang patuh seakan tidak taat bayar pajak, pembangunan di Sumatera Utara ini bersumber dari pajak yang dipungut dari masyarakat, apa dia tidak sadar, hidupnya dan fasilitas yang di pakainya bersumber dari pajak masyarakat, ujar Azhari Sinik.
Bagaimana target penerimaan Pajak bisa tercapai, kalau managemen dan administrasi yang dikelolah tidak profesional dan semrawut, terbukti ratusan berkas pajak masyarakat tidak terealisasi dengan cepat malah banyak kutipan liar yang menjerat masyarakat saat ini, tegas Ari Sinik.
Azhari Sinik juga menegaskan, bahwa masyarakat Sumatera Utara sangat oatuh dan taat bayar pajak, birokrasi dan manageman yang sembrawut yang memperlambat capaian target itu sendiri. Tolong Rudi Hadrian berkaca pada diri sendiri, kalau tak sanggup memegang jabatan dan mengelolah manageman di Bapendasu lebih baik mundur, target tak tercapai itu bukan urusan masyarakat, tapi karena ketidak mampuan anda sebagai pejabat circale dan titipan, pungkasnya.(red)






