Ejek Warga “Cie… Cie…”, Mulut Lurah Paya Pasir Layak “Disumpal Kain Perca”

Medan21 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari A.M. Sinik, menilai polemik ucapan Lurah Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Syerly, S.Pd., M.AP., harus menjadi pelajaran bagi seluruh aparatur sipil negara (ASN) agar menjaga etika dalam melayani masyarakat.

Menurut Azhari, pejabat publik dituntut mengedepankan empati ketika menerima keluhan masyarakat, bukan melontarkan celetukan yang berpotensi menyinggung perasaan warga.

“Kalau memang sulit menjaga ucapan di hadapan masyarakat, ya lebih baik mulutnya disumpal kain perca daripada mengeluarkan kata-kata yang melukai hati warga. Jabatan itu amanah pelayanan, bukan panggung bercanda,” kata Azhari, Kamis (30/7).

Azhari menegaskan, setiap aspirasi masyarakat yang disampaikan dalam forum resmi pemerintahan harus dihormati. Menurutnya, keluhan mengenai pelayanan publik tidak pantas dijadikan bahan candaan, terlebih disampaikan di hadapan kepala daerah.

BACA JUGA :  LIPPSU : Kota Medan Dibawa ke Mana di Bawah Kendali Rico Waas?

Kronologi Peristiwa

1. Warga mengeluhkan lampu jalan

Peristiwa bermula saat Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas meninjau kondisi infrastruktur di Jalan Paya Pasir, kawasan wisata Danau Siombak. Dalam kesempatan itu, seorang warga bernama Ibu Ulfa menyampaikan keluhan mengenai minimnya Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) yang membuat kawasan tersebut gelap dan rawan tindak kejahatan. Ia bahkan mengaku mengeluarkan biaya pribadi untuk memasang empat tiang lampu.

2. Celetukan “Ciyee curhat dia bah” menjadi sorotan

Di tengah penyampaian keluhan tersebut, Lurah Paya Pasir, Syerly, melontarkan ucapan, “Ciyee… curhat dia bah,” sambil tertawa. Rekaman video itu kemudian viral di media sosial dan menuai kritik karena dinilai tidak menunjukkan empati terhadap warga yang sedang menyampaikan persoalan pelayanan publik.

3. LIPPSU : Waktu dan tempatnya tidak tepat

Azhari menjelaskan bahwa kata “cie” memang dikenal sebagai ungkapan bercanda atau menggoda dalam bahasa pergaulan, bahkan tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, menurutnya, penggunaan istilah tersebut harus mempertimbangkan situasi.

BACA JUGA :  DPRD Medan Dorong Warga Pilah Sampah dari Rumah Lewat Sosialisasi Perda Persampahan

“Kalau dipakai saat bercanda dengan teman mungkin biasa saja. Tetapi ketika warga sedang menyampaikan keluhan kepada kepala daerah, yang dibutuhkan adalah sikap profesional, bukan celetukan yang mengundang tawa,” ujarnya.

*Tanggapan Lurah Paya Pasir :*

1. Mengaku spontan

Syerly menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Ia menjelaskan ucapan tersebut terlontar secara spontan karena telah lama mengenal Ibu Ulfa dan menganggap hubungan mereka cukup akrab.

2. Membantah berniat mengejek

Menurut Syerly, dirinya tidak memiliki niat mengejek atau merendahkan warga. Ia menyebut bahkan sebelum Wali Kota tiba di lokasi, dirinya telah mempersilakan Ibu Ulfa menyampaikan langsung persoalan lampu jalan agar segera mendapat perhatian pemerintah.

BACA JUGA :  LIPPSU: Bola Lampu Rp 1,2 M Disorot, Bakal Tambah Deretan Korupsi Nan Tak Kunjung Padam Di Dishub Medan

3. Diperiksa Inspektorat

Meski telah meminta maaf, Inspektorat Kota Medan tetap melakukan pemeriksaan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Syerly dinilai terindikasi melanggar kode etik ASN sebagaimana diatur dalam Peraturan Wali Kota Medan Nomor 58 Tahun 2023. Inspektorat kemudian merekomendasikan penjatuhan hukuman disiplin ringan karena perbuatannya dinilai berdampak terhadap citra pelayanan publik.

Azhari berharap kejadian tersebut menjadi pengingat bagi seluruh aparatur pemerintah bahwa kepercayaan masyarakat tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui etika, kesantunan, dan penghormatan terhadap setiap aspirasi warga.

“Pejabat publik boleh akrab dengan masyarakat, tetapi ketika mengenakan seragam dan menjalankan tugas negara, yang berbicara haruslah etika dan profesionalisme. Jangan sampai masyarakat datang membawa keluhan, tetapi pulang membawa luka karena ucapan pejabatnya,” tutup Azhari.

Laporan : Jhon Fitriadi