AFRIKA SELATAN; Penjarahan “Negeri Pelangi”: Ketika Negara Dijual di Meja Makan Keluarga Gupta

Internasional98 Dilihat

Johannesburg, 22 Februari 2026.

JOHANNESBURG, PROMEDIA.NEWS | Di sebuah rumah mewah di pinggiran kota Saxonwold yang eksklusif, keputusan-keputusan paling krusial bagi masa depan Afrika Selatan tidak lagi diambil di ruang rapat kabinet, melainkan di meja makan sebuah keluarga imigran asal India.

Inilah kisah tentang “State Capture” dalam bentuknya yang paling murni dan merusak—sebuah periode gelap di mana kedaulatan Afrika Selatan, negara dengan ekonomi paling maju di benua itu, seolah-olah memiliki label harga yang bisa dibeli oleh tiga bersaudara: Ajay, Atul, dan Rajesh Gupta.

 

Hubungan Terlarang: Zuma dan Dinasti Gupta

Semua bermula dari persahabatan yang tampak biasa antara Presiden Jacob Zuma dan keluarga Gupta. Namun, hubungan ini dengan cepat bermutasi menjadi gurita korupsi yang mencekik institusi negara.

Keluarga Gupta tidak hanya menginginkan kontrak pemerintah; mereka menginginkan kendali penuh. Melalui putra Zuma, Duduzane, yang menjadi mitra bisnis mereka, keluarga ini membangun akses tanpa batas ke jantung kekuasaan. Mereka mulai mendikte penunjukan menteri-menteri kunci yang bertugas mengamankan aliran uang negara ke pundi-pundi perusahaan mereka.

BACA JUGA :  Serangan Israel Tewaskan 3 Prajurit TNI, Indonesia Minta PBB Investigasi. Dubes Umar Hadi: Kami Tidak Butuh Alasan Israel

Baca juga Berita :

Skandal “Firepool” dan Pengurasan BUMN

Puncak dari pembajakan ini adalah penjarahan massal terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terutama Eskom (perusahaan listrik) dan Transnet (perusahaan transportasi).

Krisis Energi yang Direkayasa: Kontrak batu bara untuk pembangkit listrik dialihkan secara paksa kepada perusahaan milik Gupta, meskipun kualitasnya buruk, yang memicu pemadaman listrik bergilir di seluruh negeri.

Menteri yang “Dipesan”: Skandal paling dramatis terungkap ketika seorang politisi mengaku ditawari posisi Menteri Keuangan oleh keluarga Gupta di rumah mereka—dengan syarat ia harus membantu kepentingan bisnis mereka—bahkan sebelum Presiden Zuma mengumumkannya secara resmi.

Sementara rakyat Afrika Selatan berjuang dengan kemiskinan dan pengangguran, miliaran Rand mengalir keluar negeri menuju Dubai, meninggalkan infrastruktur negara dalam kondisi hancur.

BACA JUGA :  Rekening Misterius dan Kesaktian Pemiliknya di Balik Korupsi Smartboard Langkat

 

Perlawanan dari Dalam: Jurnalisme dan Pelapor Pelanggaran

Kebangkitan Afrika Selatan tidak dimulai dari kursi parlemen, melainkan dari keberanian para whistleblower dan jurnalis investigasi.

Pada tahun 2017, bocornya ribuan email internal—dikenal sebagai #GuptaLeaks—menjadi bukti tak terbantahkan tentang bagaimana keluarga Gupta menginstruksikan menteri dan pejabat publik. Media seperti Daily Maverick dan amaBhungane bekerja tanpa lelah menyatukan kepingan puzzle pengkhianatan ini, memicu kemarahan publik yang tak terbendung.

Komisi Zondo: Mencuci Dosa di Depan Layar Kaca

Setelah tekanan massa dan perpecahan di dalam partai berkuasa (ANC), Jacob Zuma akhirnya dipaksa mundur pada 2018. Penggantinya, Cyril Ramaphosa, meresmikan Komisi Penyelidikan Zondo.

Selama empat tahun, komisi ini menjadi “teater keadilan” nasional. Ratusan saksi memberikan kesaksian yang disiarkan langsung di televisi, membedah lapis demi lapis bagaimana negara dijarah. Hakim Raymond Zondo tidak hanya mengungkap korupsi, ia mengungkap mekanisme bagaimana sebuah demokrasi bisa dilumpuhkan dari dalam.

BACA JUGA :  LIPPSU: Kajari Medan Dimutasi, Ada “Tangan Kotor” Ingin Cuci Kasus

Baca juga Berita :

 

Epilog: Jalan Terjal Menuju Pemulihan

Afrika Selatan saat ini masih tertatih-tatih memperbaiki kerusakan akibat era Zuma-Gupta. Namun, keberhasilan mereka memenjarakan Zuma (meski singkat) karena penghinaan terhadap pengadilan, serta upaya ekstradisi saudara-saudara Gupta dari Uni Emirat Arab, mengirimkan pesan kuat: Negara ini tidak lagi untuk dijual.

Kisah Afrika Selatan adalah peringatan bagi dunia bahwa tanpa transparansi dan lembaga pengawas yang independen, “Negeri Pelangi” sekalipun bisa berubah menjadi jarahan bagi segelintir orang serakah.

Penulis: Lhynaa Marlinaa (Marlina) https://www.facebook.com/share/1CtvyzonYV  Daily Vlog | News Agregator | Citizen Journalist

By: Syafaruddin Sikumbang,